Mencari Bapak





SOMAD
MENCARI BAPAK

Namaku Somad,lahir di Jurangmangu
sepuluh tahun yang lalu,
putus sekolah,kelas 2 SD

“Somad,jadilah anak yang baik,
Rajin belajar,menjadi sarjana.
Jangan seperti bapak,

jebolan Sekolah Rakyat,
bisanya cuma ngoret.”

Ya bapak’
’kan kuingat s’lalu.

”Somad, muliakan ibumu
sebab umurku tak panjang.
TBC mencabik paruku.
Kalau bapak mati, jangan rendah diri,
meski kau menjadi yatim.
Cukuplah, sawah dua petak kuwariskan
dan sepasang kerbau gagah
membuatmu jadi pahlawan
bagi ibu dan tetanggamu.”

Ya bapak,
’kan kuingat ’slalu.

Ketika mataku terpejam
semua berubah menjadi gelap
tak kulihat lagi wajah bapakku
selain kayu warna kelabu.
Namaku Somad, lahir di jurangmangu
sepuluh tahun yang lalu,
putus sekolah, kelas 2 SD.

”Somad anakku, ingatlah petitih bapakmu.
Jadilah anak yang baik dan rajin sekolah
tapi siapa yang membiayai hidupmu?
Maka izinkan ibu kawin
dengan ’rang kota dari Jakarta.
Ia gagah seperti bapakmu.”

Belum lagi habis kukenang
genggaman dan batuk terakhir
Oh bapak, dimana kamu,,?
Rumah ’tlah dihiasi bagai pasar malam
dan layar tancap membawa ibuku
ke kamar pengantin,
membiarkanku tidur
tanpa bulan dan bintang
Baru kutahu, sawah & kerbauku amblas
dilipat di rumah gadai, tak pernah ditebus.

Hoi  kamu ’rang kota,!
Kembalikan sawah, kerbau dan ibuku,!
Jangan kau bajak ketiganya
berdarah-darah.

”Apa katamu, anak bego,,?
Tak tahukah kamu hidup modern
Jakarta penuh batu dan baja?
Tak guna kerbau dan sawah.
Untuk apa pula sekolah
bila hidup berujung uang dan kuasa?
Kita pindah ke metropolitan
Ibumu kerja di night-club
kau nyemir sepatu di terminal.”

Bapak , bapak, bapak
Dimana kamu?
Hidup kami bangkrut
sebelum sawah di garap
semasih ibu berbau peluhmu
’tlah datang perampok.

Hoi kamu ’rang kota!
Kembalikan sawah, kerbau dan ibuku
atau kusimpan belati di perutmu!

Ribuan kunang menyerbu mataku,
dunia gelap gulita, berpusing seprti gasing
yang dipatuk lancip paku.
Bapak, bapak, bapak, ubunku berdarah,
jidadku berdarah, pukulan martil oh sakitnya.

Namaku Somad, lahir di jurangmangu
sepuluh tahun yang lalu,
putus sekolah, kelas 2 SD.

”Somad anakku, maafkan ibu
terlanjur cinta dan tak kuasa apa-apa
jadi kuikut saja ’rang kota ke Jakarta.
Kukirim uang setiap bulan
jadilah anak yang baik”

Bapak, bapak, bapak, dimana kamu?
Hidup kami bangkrut!

”Minggat!”

Kamu khianat!

”Kutendang pantatmu !”

Dua tahun lewat, ibu tak pernah pulang,
tak ada uang tak ada kasih sayang,
kutolak panti asuhan karena bapak pesan,
jangan rendah diri jadi yatim piyatu.

Wahai bapak, inilah Somad,
meneruskan nasibmu, jadi tukang ngoret
tanpa ibu , kerbau dan sawah.
Tetapi bapak, satu hal yang baru kudapat,
yang tak pernah kau ajarkan :
Allah selalu berpihak pada ’rang lemah,
menghibur dan menguatkan
dengan Ruh Kudus

Langit mendung membuka perutnya buncit,
puting beliung bersayap jingga,
menyapu desa rata dengan tanah.
Tak satu rumah pun tinggal berubin,
semua lebur dalam prahara.
Sebulan penuh orang meratap
menyusun batu bata.

Namaku Somad, lahir di jurangmangu
sepuluh tahun yang lalu,
putus sekolah, kelas 1 SD.

”Hai Somad, karena ulahmu desa berantakan,
kau cegah ibumu kerja di night club
kau sendiri sujud di mushalla tak berguna!
”Hoi anak bandel, rasain tak punya bapak,
ibumu di rampok, kamu miskin,
tak boleh bermain bersama kami.
Sana pergi jadi kerbau atau kodok!”
”Ya ya jadilah kerbau atau kodok!”

”Awasa kalau aku sudah besar nanti!”

”Kamu tak bisa besar karena kurang makan!”

”Awas, kupanggil bapak : bapak!”

”Bapakmu dimakan cacing kuburan!”

Benarkah? Kuayun langkah ke selatan,
menyibak rumpun bambu, bau mawar dan setanggi.
Bapak , dimana kamu?
Becek dan lumutan, nisan-nisan bagai es
tanah gembur daging cacah.
Bapak, di mana kamu?
Kubanting-banting tubuhku, meraung
tanpa suara, menangis tanpa suara.

”Somad, jangan sedih, maukah kau jadi
adiknya Fatimah? Maukah kau jadi
pamannya Hasan dan Husain? Maukah kau
punya ibu bernama Khadijah? Maukah kau
punya bapak bernma Muhammad?”

Ya ya nama saya Somad, Abdul Somad.
Di sini, ada lebih seratus Somad.

0 Responses