Kawin





SOMAD
Kawin

Namaku Somad, lahir di jurangmangu
Duapuluh tahun yang lalu
kyai muda, belum pernah kawin.

Bapak meninggal, ibu tak kunjung pulang
kerbau dan sawah hilang.
Semua dari Allah, kembali kepada Allah
tak mengapa, ku ikhlas saja.

Adalah menjadi pilihan menjadi pemuda alim,
yang hanif, yang latif, yang jamil, yang salih,
bagai Nabi Ismail ketika menjawab,

”Ya bapak, lakukan saja perintah Allah
menyembelihku seperti dalam mimpimu.
InsyaAllah, anakmu orang yang sabar.”

Bapak , bapak, inilah Somad anakmu
t’lah kulewati masa kanak
penuh duka nestapa
t’lah kulewati masa remaja
penuh lara kecewa.
Hanya Allah, ya hanya Allah
yang setiap pagi, siang dan malam,
mengutus Rasulullah
menghibur hatiku

”Somad engkau umatku”

Namaku Somad. Lahir di jurangmangu
duapuluh lima tahun yang lalu
kyai muda, belum pernah kawin.
Siapa mau mengambil aku jadi menantu?
Siapa sudi meminangaku jadi suami?

Sungguh , 99 kali orang tua datang dan pergi
melamar aku tapi hatiku bisu
karena istikharah selalu buntu.
Bapak, bapak, seandainya kau hidup
Sekali kau tunjuk, tentu aku setuju.

Terpuji Allah Ta’ala
sejahtera Rasulu-Llah Saw
menjanjikan 700 bidadari bermata bundar.
Hinggah aku mendapat kasyaf dalam tidur
dua gadis kembar tak ku kenal
lewat menebar wangi cendana.Siapa?

”Salam bagimu Somad,
bila Allah izinkan, kupinang kau
menjadi suami putri tunggalku
dan mewarisi seluruh hartaku.”

O bapak haji, tersanjung sekali hatiku
tapi lihatlah, Somad tak berbapak
tak beribu, tak punya sawah dan kerbau,
tuna ilmu dan pemalu.

”Kuundang kau makan malam di rumahku.”

Ketika meja dibersihkan
bidadari kutemui, bermata bundar
wahai, lagi-lagi bau cendana,
minum dan makanan di hidangkan,
wahai, lagi-lagi bau cendana,
seorang gadis membuka kerudungnya
wahai, bau cendana, cendana dan mawar,
cendana, mawar, dan melati,
cendana, mawar, melati dan kesturi.
Ruang ini menjadi toko minyak wangi
yang di buka tutup botolnya.
Bapak, anakmu Somad, mabuk!

”Namanya Mutia,
maukah kau menjadi suaminya?

Mutia? Inikah kembarannya?
Mutia, wanita pertama masuk surga.
Maukah Mutia menjadi pengantinku?

”kenapa tidak?
Asal kau pinang aku sesuai sunnah,
kau beri pula mas-kawin permintaanku.”

Bapak, bapak, anakmu Somad
tak punya apa-apa.

Ambillah ini, lima butir telur,
jangan direbus jangan dibelah.
Besok malam datanglah, bagi sama rata
antara bapak, aku dan kamu.”
Insya Allah.

”Semogah kau menjadi lelaki pertama
Dan yang terakhir untukku”

Sujud syukur berulang kali,
aku telah menemukan jodoh,
buah istikharah buah surgawi.
Gadis bau cendana, bau mawar, bau melati,
Bau kesturi, bau toko minyak wangi.
mas-kawinnya lima butir telur yang di bagi.....
Astaga!di bagi? Lima butir harus dibagi tiga
sama rata: aku, pak haji, dan Mutia?
Tanpa boleh di rebus dan di belah?
Mana mungkin?

Bapak, bapak, bapak!
ini tak ada di rumus metematikaku!
ini tak ada di ilmu mantiq dan lughat arab!
Bapak, kini aku gagal sudah,
anakmu Soamad tak jadi kawin
dan malu tak terkira.

Namaku Somad, lahir di jurangmangu
duapuluh lima tahun yang lalu
kyai muda belum pernah kawin
Dan tak akan pernah kawin
kalau begini akhirnya.
Sujud syukur menjadi sujud tawabin,
hati girang menjadi sesal.
Gusti, ampunilah kejahilan hamba-Mu.

”Salam bagimu Somad.”

Siapa di pintu?
”Aku Zainab, telah kudengar keluh kesahmu,
insyaAllah aku ’kan membantumu.”

Zainab? Gadis kutu buku dia, nyaris kulupa,
seorang hafidzah, ahli hujjah, wira’iah,
tak pernah kulihat kecantikan wajahnya,
akan menolongku?

Malam kedua di perjamuan,
wajahku pucat, tanganku gemetar
mengenggam telur hampir menetas.
Lima  dibagi tiga tanpa pecahan?
Tapi Zainab meraih telur dan membaginya:
Satu butir untukku, satu butir untuk pak haji,
Dan tiga butir untuk Mutia.
Edan , Zainab sudah edan, mana mungkin?!

”Mohon maaf  kelancangan saya
Somad dan pak haji cukup satu butir telur,
karena masing-masing telah punya dua telur
yang s’lalu dibawa pergi kemana-mana,
sedangkan Mutia yang tak punya,
harus dibagi tiga telur.
Kini, masing-masing membawa tiga telur
bukankah adil-rata namanya?”

Ilmu 15 tahun dipesantren lenyap rasanya
oleh satu kalimat bijak si Zainab
yang mulai membuka pardah
menampakkan perhiasan rambut, bibir,
hidung pipi, dagu, yang luar biasa indahnya.

”Kuterima lamaran Somad,
juga Zainab yang cerdik dan bijaksana
menjadi suami dan madu’ku”.







1 Response
  1. Anonim Says:

    ok om tirto,,,,