Ketika Aku Menjaganya, Allah Menjagaku


“Ta, hafalannya udah nambah belum?” “Mmm… Mmm… Belum.” Begitu terus pertanyaan papah dan begitu terus jawabanku. Menjaga yang sudah ada saja sulit, begitu pikirku dan aku berusaha untuk muroja’ah saja. Nyatanya untuk muroja’ah saja tanpa ziyadah memang sudah sangat susah.
Aku bukan penggemar seorang Mario Teguh, hanya waktu itu kebetulan televisi yang dinyalakan sedang menayangkan Golden Ways. “Jangan risaukan akan kekurangan-kekurangan kita, tapi maksimalkan kelebihan yang kita miliki walaupun hanya satu bidang.” Saat itu aku berfikir dan menyadari ternyata selama ini aku memang selalu berputar-putar pada kekuranganku. Tanpa pernah memaksimalkan kelebihan yang aku miliki.

Selepas Ramadhan maka mulailah kulanjutkan ziyadahku. Sejak sampai SMU ziyadahku hanya mentok di juz 26. Juz 25 ayatnya mulai susah, kurang familiar, dan panjang-panjang. Mungkin ini karena kurang motivasi saja. Saat kuliah aku ikut lembaga tahfidz qur’an An-Nur. Awalnya diajak oleh senior satu wisma. Sempat pikir-pikir juga sih karena biayanya cukup mahal untuk ukuran anak kos yang jauh dari orang tua.
Ternyata di wisma ada tiga orang senior dan satu orang temanku yang juga ikut, aku jadi semangat karena ada teman. Di An-Nur memang menganjurkan ziyadah mulai dari depan (Al-Baqoroh). Akhirnya mulailah aku berkutat di Al-Baqoroh. Ayatnya ternyata memang relatif lebih mudah, easy listening rasanya. Dan lagi-lagi hanya mentok di akhir Al-Baqoroh. Karena kesibukan (yang sebenarnya mungkin hanya alasan semata) dan
malas saat tiba masanya ujian akhirnya aku berhenti dari An-Nur.
Saat ini aku mulai mencoba untuk ziyadah kembali. Mencoba menaklukan Ali-Imron. Lumayan sedikit-sedikit sambil menunggu pasien. Jika dipikir-pikir memang ternyata lebih sulit. Kali ini bukan terkendala kepada masalah sulitnya ayat, tetapi lebih kepada karena aku berjalan sendiri tanpa seorang hafiz atau hafizoh tempat aku menyetorkan hafalanku seperti dulu.
Tanpa ada standar apakah aku sudah berhak melaju ke jenjang ayat berikutnya atau masih harus terus mengulangnya. Tak ada lagi ujian kenaikan juz, ujian setiap akhir catur wulan, atau ujian tiap periode akhir semester. Semua akulah yang mengontrol. Aku yang harus terus bangkit saat godaan-godaan kemalasan datang menghinggapi jiwa.

Teringat sebuah perkataan dari Ustad ‘Abbas Al-hafiz, semoga Allah senantiasa merahmati dirinya dan keluarganya “Kita dan Al-Qur’an itu seperti satu jiwa, satu nyawa. Rasanya jika kita menyetorkan hafalan kita maka Al-qur’an harus selalu kita pegang karena dengan seperti itu kita akan merasa lancar. Padahal sebenarnya jiwa kita dan Al-Qur’an menyatu jika kita menyetorkan hafalan kita justru tanpa memegang Al-Qur’an. Bila lancar melafalkannya maka disitulah jiwa kita menyatu dengan Al-Qur’an.”
Ada tiga jenis hafalan, dari sinilah kita sesungguhnya bias mengetahui kualitas hafalan kita. Hafalan otak, hafalan mulut, hafalan hati. Pertama; hafalan otak yaitu hafalan Al-Qur’an yang jika kita melafalkannya maka kita butuh konsentrasi penuh, kalau bisa suasana tenang, tidak ada gangguan. Jika kita lupa akan suatu ayat, maka kita akan berpikir keras, meminta clue kepada penyimak hafalan kita berupa arti dari awal ayat atau satu kata dari awal ayat tersebut. Kedua; hafalan mulut yaitu bila kita mampu melafalkan hafalan kita sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sambil menyapu, memasak, mengepel hafalan itu mengalir dari mulut kita tanpa cela. Ketiga, hafalan hati yang merupakan kualitas hafalan tertinggi.

Cara mengetesnya mudah saja, bangunkan orang yang sedang tidur kemudian langsung berikan satu buah ayat. Jika ia berhasil melanjutkan ayat tersebut tanpa berfikir terlebih dahulu maka hafalannya telah mencapai hafalan hati. Subhanallah… jadi malu, adakah hafalanku yang sudah mencapai hafalan hati?

Setiap orang memiliki cara ziyadah yang berbeda-beda. Namun yang saat ini saya pakai adalah dengan membaca ayat yang akan dihafal tiga kali (kalau malas sedang mendera kadang hanya satu kali) kemudian membaca artinya. Lebih bagus menghafal dengan Al-Qur’an yang ada terjemah kata per katanya (seperti Inayah, Syamiil ukuran besar; bukan promosi lho…) sehingga akan lebih mudah dipahami. Menghafal jadi seperti membaca sebuah kisah indah, bila lupa mudah untuk merecall kembali. Ulang terus hingga benar-benar lancar.

Jika sudah lancar maka ulanglah dari ayat sebelumnya. Begitu juga saat akan melaju ke ayat selanjutnya. Bila telah hafal maka ulanglah dari dua ayat sebelumnya. Untuk juz-juz yang berisi beberapa surat, maka jika telah hafal sebuah surat ulanglah dari surat sebelumnya. Otomatis dengan begitu surat yang paling dahulu kita hafal di juz tersebut akan menjadi yang terlancar bahkan bisa menjadi hafalan hati. Coba saja juz 30, insyaAllah An-Naba-lah yang paling mudah. Sambil merem juga lancar. Di juz 29, Al-Mulk yang paling ok.
Usia pun mempengaruhi daya tangkap kita. Rasanya An-Naba yang dihafal dari SD tidak pernah lupa-lupa tapi yang baruuu saja kita hafal jika tidak kita ulang-ulang saja selama dua hari, langsung deh lupa lupa inget. Apalagi ditambah melakukan maksiat (walaupun menurut ukuran kita hanya maksiat kecil), pasti jadi harus seperti ziyadah ulang. Weleh…weleh… Karena saat kecil (sebelum baligh) kita masih tanpa dosa, berfikir jernih, tidak neko-neko maka ziyadah pun akan lebih mudah.

Tak heran banyak pesantren tahfidz Qur’an yang mencetak hafidz hafidzoh saat usia santrinya setara kelas 6 SD. Subhanallah… Kita memang telah tertutup kemungkinan menjadi hafidz/hafidzoh di usia dini, tapi kelak kita bisa mewujudkan hal tersebut melalui anak-anak kita kelak.

Setiap hafidz hafidzoh memiliki ciri khas yang berbeda saat menyimak hafalan kami. Air mata seakan berlomba turun saat teringat Pak ‘Abbas yang tetap tahu kesalahan murid-muridnya walaupun beliau menyimak hafalan kami seakan tertidur. Pak Masrur yang selalu membenarkan tajwid. Bu Husnul dengan deheman-dehemannya ketika aku salah baca. Atau ketukan-ketukan pulpen di meja yang terdengar saat (lagi-lagi) aku salah baca. Wajah-wajah teduh itu bisakah menjadi wajahku juga?

Kembali teringat saat wisuda di Rafah. Saat para hafidz muda (setara kelas 3 SMU) dipanggil namanya, air mata ini kembali mengalir. Mereka telah mempersembahkan mahkota dan baju emas untuk kedua orang tuanya di yaumil akhir kelak. Bisakah aku?

Salah seorang pasienku hari ini adalah seorang ustad Rafah yang berasal dari Mesir, asli Mesir, dan berbicara bahasa arab. Beliau ditemani oleh ‘Arij (putra dari Ustad Natsir pemilik Pesantren Rafah tempatku saat ini mengabdikan diri) sebagai penerjemah. ‘Arij yang baru saja naik ke kelas 2 SMP, ‘Arij yang masih lucu, ‘Arij yang masih mencium tanganku, berbicara dengan beliau dalam al-lughotul ‘arabiyyah. Itu bahasa ahli syurga kawan, bahasa para penghuni syurga yang wajahnya senantiasa berseri. Anak sekecil itu.

Dan aku kembali malu pada diri ini mengingat pelajaran bahasa arabku yang sangat minim dan banyak lupanya sejak lulus SMU. Ya Allah, bisakah aku memasuki syurga-Mu? Di mana para penghuninya berbicara dalam bahasa Al-Qur’an, bahasa yang sangat indah.

Saat tulisan ini aku buat genap usiaku seperempat abad dan belum sampai tiga minggu aku kembali menggiatkan ziyadahku. Namun aku mendapatkan begitu banyak kemudahan dan keindahan di hari ini. Seperti Allah sedang memelukku.

Padahal aku baru sedikit sekali ziyadah, muroja’ah pun masih belang bentong. Ya Allah berikanlah selalu hidayah-Mu kepadaku, para penghafal dan pemelihara Al-Qur’an agar senantiasa bersama Al-Qur’an saat kami lapang maupun sempit, saat kami senang maupun susah, saat kami kaya maupun miskin, saat kami sehat maupun sakit, dan sepanjang hidup kami. Ya Allah curahkanlah syafa’at-Mu selalu kepada para penjaga Al-Qur’an di yaumil akhir kelak.

Aku ingin mempunyai amalan unggulan dan saat ini ziyadahlah yang aku pilih di saat amalan lain terasa lebih berat (terutama sebagai ibu hamil). Aku ingin janin dalam rahimku turut mendengarnya saat aku ziyadah, turut merasakan nikmatnya ziyadah, dan aku ingin kelak ia menjadi hafidzoh.

sumber : Gracia Azra Lestari, Era Muslim


0 Responses