Zuhud Tukang Parkir


ZUHUD
Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidupnya

Pertama, orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.

Kedua, orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya diluar kemampuannya, hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak daripada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Empat Istri Kita


Dahulu kala…

Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri.
Raja ini sangat mencintai isteri keempatnya dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang isteri.
Dia juga sangat memuja isteri ketiganya dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya.

Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri ketiga karena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu.

Isteri pertama raja adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam pemeliharaan kekayaannya maupun untuk kerajaannya. Akan tetapi, si raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini meskipun sang isteri begitu mencintainya, tetap saja sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isterinya itu.

Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia sadar bahwa kematiannya sudah dekat.
Sambil merenungi kehidupannya yang sangat mewah itu, sang raja lalu berpikir, “Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri”.

Lalu, bertanyalah ia pada isteri keempatnya, “Sampai saat ini, aku paling mencintaimu, aku sudah menghadiahkanmu pakaian-pakaian yang paling indah dan memberi perhatian yang sangat besar hanya untukmu.

Sekarang aku sekarat, apakah kau akan mengikuti dan tetap menemaniku?”
“Tidak akan!” balas si isteri keempat itu, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Jawaban isterinya itu bagaikan pisau yang begitu tepat menusuk jantungnya.
Raja yang sedih itu kemudian berkata pada isteri ketiganya, “Aku sangat memujamu dengan seluruh jiwaku. Sekarang aku sekarat, apakah kau tetap mengikuti dan selalu bersamaku?”
“Tidak!” sahut sang isteri. “Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!”
Perasaan sang rajapun hampa dan membeku.

Masikah Kita Mengeluh,,,?

RENUNGKANLAH

Jika kita sering mengeluh setiap hari, kurang ini kurang itu, coba lihat gambar-gambar dibawah ini.
Jika Anda merasa selalu hidup dalam tekanan, coba lihatlah mereka..
Jika Anda merasa pekerjaan anda sangatlah berat, bagaimana dengan dia??
Bila Anda merasa gaji anda sangat sedikit, bagaimana dengan anak yg malang ini??
miskin
Jika Anda merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangat dia..
belajar
Jika Anda sempat merasa putus asa, ingatlah orang ini??
putus asa
Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal??
miskin
Jika Anda merasa hidup anda sangat menderita, apakah anda juga merasakan penderitaan seperti orang ini??
menderita
Jika Anda merasa hidup Anda tidak adil, bagaimana dengan dia??
tidak adil
Di saat kita kecil dimanja dan di sayang, manjakah mereka?
anak kecil
Tdk merasa bersalahkah kita masih selalu tidak mendengarkan bahkan melawan ibu kita?
ibu
Tanyalah ke dalam diri kita sendiri, dibandingkan dengan mereka, seberapa beruntungkah sebenarnya kita?
Masih pantaskah kita selalu mengeluh akan masalah-masalah “kecil” yang menimpa hidup kita?
Di saat kita dihadapi oleh berbagai rintangan dalam hidup, ingat, kita tidak pernah kehilangan opsi untuk tetap bersyukur..

Bukankah bersyukur merupakan cara paling mudah untuk mencicipi kebahagiaan??
Mari kita Renungkan Bersama..

Sumber Kaskus

Kalau Besok Mati ,Kita Bawa Apa

Bekal Kamatian

Betapa banyak orang yang gamang menghadapi hari tua. Takut tak memiliki harta yang cukup saat tubuh tak lagi kuat bekerja. Takut kebutuhan hidup tak terpenuhi saat pendapatan tak lagi ada. Maka, kasak-kusuk orang mencari solusi mengatasi kegamangan ini. Tak heran bila kemudian pegawai negeri sipil banyak diminati para pencari kerja meski –konon- gajinya lebih kecil dari pegawai swasta.

Alasannya, pegawai negeri sipil menjamin masa tua. Para pegawai swasta pun tak mati asa. Mereka ikut asuransi hari tua. Mereka rela pendapatannya dipotong setiap bulan. Begitu juga mereka yang tak akrab dengan asuransi, memilih untuk mengumpulkan sendiri rupiah demi rupiah di pundi-pundi mereka.

Alangkah piciknya kita jika hanya sibuk mempersiapkan diri sebatas hari tua saja! Padahal, setelah hari tua, ada masa yang jauh lebih penting untuk kita persiapkan bekalnya. Masa setelah kematian menjemput kita. Masa ini jauh lebih lama ketimbang masa tua kita. Bahkan kita akan kekal berada didalamnya. Masa ini meminta konsekuensi jauh lebih berat ketimbang masa tua kita. Jika tak kita persiapkan dengan matang, maka penderitaan yang sungguh tak tertahankan bakal menanti kita. Sebaliknya, jika kita persiapkan dengan baik, maka kebahagiaan yang sungguh tak terbayangkan bakal menyambut kita.

Sayangnya, banyak diantara kita yang lebih merasa gamang menghadapi mas tua ketimbang masa ini. Banyak diantara kita yang lalai, seolah-olah masa ini masih lama. Padahal, masa ini bisa terjadi jauh-jauh hari sebelum masa tua tiba. Bahkah ia bisa datang esok, saat kita berada di usia “emas”. Atau jangan-jangan…???!,, Astaghfirullah hal adzim…,,

Jadi, sebelum tiba masa di mana nafas sudah tersekat di tenggorokan, lekas kumpulkan bekal! Mumpung sekarang belum terlambat.

Wallahu a’lamu bish shawab

Sumber majalah Hidayatullah edisi Oktober 2008

Do'a Kita Kepada Allah


Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis

“Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh.
Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.”
Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah

“Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah,
agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati
dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir

“Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka
di sekolah Islami yang baik meskipun mahal,
beri aku rizki untuk itu ya Allah….”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah

“Ya Allah….. jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral
Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja

“Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang
mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena
dia ibarat buah yang sedang ranum.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa

“Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang
bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami.”
Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah “Ya Allah jangan kau putuskan
tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan
dia karena dia akan ikut suaminya.”

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan

“Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat.
Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan
teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya
cucuku.”

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan
berkata……

“Engkau ingin suami yang baik dan sholeh
sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam,
akankah engkau jadi makmum yang baik?”

“Engkau ingin anak yang sholehah,
sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu……
masa engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu….
tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku,
karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku.”

“Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam,
karena apa?…… prestige? …… atau….
engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar,
Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya.”

“Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan
mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan
umat-Ku.”

“Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik
maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan.”

“Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku,
bahkan ketika dia melupakan-Ku.
Aku tetap mencintainya.”

“Anakmu adalah amanahmu,
cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan
untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya.”

Lantas…… aku malu…… dengan imajinasiku sendiri….
aku malu……

aku malu akan tuntutanku…….
Maafkan aku ya Allah……

oleh: Ratih Sanggarwati. SuMber : MAilingList: As-Syifa

Apa Devinisi Mampu


Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau bakso ?
“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita -cita penyempurnaan iman “.
“Maksudnya.. …?”, saya melanjutkan bertanya.
“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat…… …..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.
Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.
“Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.

dari berbagai sumber

Ketika Aku Menjaganya, Allah Menjagaku


“Ta, hafalannya udah nambah belum?” “Mmm… Mmm… Belum.” Begitu terus pertanyaan papah dan begitu terus jawabanku. Menjaga yang sudah ada saja sulit, begitu pikirku dan aku berusaha untuk muroja’ah saja. Nyatanya untuk muroja’ah saja tanpa ziyadah memang sudah sangat susah.
Aku bukan penggemar seorang Mario Teguh, hanya waktu itu kebetulan televisi yang dinyalakan sedang menayangkan Golden Ways. “Jangan risaukan akan kekurangan-kekurangan kita, tapi maksimalkan kelebihan yang kita miliki walaupun hanya satu bidang.” Saat itu aku berfikir dan menyadari ternyata selama ini aku memang selalu berputar-putar pada kekuranganku. Tanpa pernah memaksimalkan kelebihan yang aku miliki.

Selepas Ramadhan maka mulailah kulanjutkan ziyadahku. Sejak sampai SMU ziyadahku hanya mentok di juz 26. Juz 25 ayatnya mulai susah, kurang familiar, dan panjang-panjang. Mungkin ini karena kurang motivasi saja. Saat kuliah aku ikut lembaga tahfidz qur’an An-Nur. Awalnya diajak oleh senior satu wisma. Sempat pikir-pikir juga sih karena biayanya cukup mahal untuk ukuran anak kos yang jauh dari orang tua.
Ternyata di wisma ada tiga orang senior dan satu orang temanku yang juga ikut, aku jadi semangat karena ada teman. Di An-Nur memang menganjurkan ziyadah mulai dari depan (Al-Baqoroh). Akhirnya mulailah aku berkutat di Al-Baqoroh. Ayatnya ternyata memang relatif lebih mudah, easy listening rasanya. Dan lagi-lagi hanya mentok di akhir Al-Baqoroh. Karena kesibukan (yang sebenarnya mungkin hanya alasan semata) dan

Sejarah HaNaCaRaKa



Aksårå Hånåcåråkå.
Aksårå Hånåcåråkå ( utåwå ) iku sarupaníng aksårå síng kaanggo ing Tanah Jåwå lan saubêngé kåyå tå ing Madurå, Bali, Lómbók lan ugå Tatar Sundhå. 

Aksårå Hånåcåråkå iku ugå diarani aksårå Jåwå nangíng sajatiné ukårå iki kurang srêg amargå aksårå Jåwå iku warnané akèh saliyané iku aksårå iki ora namúng diênggo nulís båså Jåwå waé.
Aksårå iki uga diênggo nulís båså Sangskrêta, båså Arab, båså Bali, båså Sundhå, basa Madurå, båså Sasak lan ugå båså Mêlayu.
Nangíng ing artikêl iki ukårå Hånåcåråkå lan aksårå Jåwå diênggo loro-loroné lan yèn ånå ukårå aksårå Jåwå síng dirujúk iku aksårå Hånåcåråkå.


Aksårå Hånåcåråkå kagólóng aksårå jinis abugida utåwå hibridha antårå aksårå silabik lan aksårå alfabèt.
Aksårå silabik iki têgêsé yèn sabên aksårå ugå nyandhang sawijiníng swårå. Hanacaraka kalêbu kulåwargå aksårå Brahmi síng asalé såkå Tanah Hindhústan.
Yèn bêntúké, aksårå Hånåcåråkå ånå wís kåyå saiki wiwít minimal abad kapíng 17.
Aksårå Hånåcåråkå iki jênêngé dijupúk såkå limang aksårå wiwitané.


Étimologi lan lêgèndha asal 
Aksårå Hånåcåråkå jênêngé dijupúk såkå urutan limang aksårå wiwítan iki síng uniné "hånå cåråkå".
Urutan dhasar aksårå Jåwå nglêgêna iki cacahé ånå róngpulúh lan nglambangaké kabèh foném båså Jåwå.
Urutan aksårå iki kåyå mêngkéné:


hå nå cå rå kå
då tå så wå lå
på dhå jå yå nyå
må gå bå thå ngå

Urutan iki uga biså diwåcå dadi ukårå-ukårå:
 
"Hånå cåråkå" têgêsé "Ånå utusan""Dåtå såwålå" têgêsé "Pådhå garêjêgan"
"Pådhå jåyånyå" têgêsé "Pådhå digjayané"
"Mågå båthångå" têgêsé "Pådhå dadi bathang".

Urutan ukårå iki digawé miturút lêgèndha yèn aksårå Jåwå iku diastå déníng Aji Såkå såkå Tanah Hindhústan mênyang Tanah Jåwå.
Banjúr Aji Såkå ngarang urutan aksårå kåyå mêngkéné kanggo mèngêti róng pånåkawané síng sêtyå nganti pati: Dorå lan Sêmbådå.
Loroné mati amêrgå ora bisa mbúktèkaké dhawuhé sang ratu.
Mulå Aji Såkå banjúr nyiptakaké aksårå Hånåcåråkå supåyå biså kanggo nulís layang.

Caritané kåyå mêngkéné:
Kacaritå ing jaman mbiyèn ånå wóng såkå Tanah Hindhústan anóm jênêngé Aji Såkå.
Dhèwèké putrané ratu, nangíng kêpéngín dadi pandhitå síng pintêr.
Kasênêngané mulang kawrúh rupå-rupå. Dhèwèké banjúr péngín lunga mêncaraké ngèlmu kawruh ing Tanah Jåwå.


Banjúr anuju sawijiníng dinå Aji Såkå sidå mangkat mênyang Tanah

Air Wudlu & Sakit Mata


Suatu hari Junaid Al-Banghdadi sakit mata. Ia diberitahu oleh seorang tabib, jika ingin cepat sembuh jangan sampai matanya terkena air.

    Ketika tabib itu pergi, ia nekad berwudhu membasuh mukanya untuk sholat kemudian tidur. Anehnya, sakit matanya malah menjadi sembuh. Saat itu terdengar suara "Junaid menjadi sembuh matanya kerana ia lebih ridha kepada-Ku". Seandainya ahli neraka minta kepada-Ku dengan semangat Junaid niscaya Aku luluskan permintaannya." Kata suara itu.

    Tabib yang melihat mata Junaid sembuh itu menjadi keheranan, "Apa yang telah engkau lakukan?"

    "Aku telah membasuh muka dan mataku kemudian sholat", ujarnya."

    Tabib itu memang beragama Nashrani, dan setelah melihat peristiwa itu, dia beriman. "Itu ubat dari Tuhan yang menciptakan sakit itu. Dia pulalah yang menciptakan ubatnya. Aku ini sebenarnya yang sakit mata hatiku, dan Junaidlah tabibnya."

Kawin





SOMAD
Kawin

Namaku Somad, lahir di jurangmangu
Duapuluh tahun yang lalu
kyai muda, belum pernah kawin.

Bapak meninggal, ibu tak kunjung pulang
kerbau dan sawah hilang.
Semua dari Allah, kembali kepada Allah
tak mengapa, ku ikhlas saja.

Adalah menjadi pilihan menjadi pemuda alim,
yang hanif, yang latif, yang jamil, yang salih,
bagai Nabi Ismail ketika menjawab,

”Ya bapak, lakukan saja perintah Allah
menyembelihku seperti dalam mimpimu.
InsyaAllah, anakmu orang yang sabar.”

Bapak , bapak, inilah Somad anakmu
t’lah kulewati masa kanak
penuh duka nestapa
t’lah kulewati masa remaja
penuh lara kecewa.
Hanya Allah, ya hanya Allah
yang setiap pagi, siang dan malam,
mengutus Rasulullah
menghibur hatiku

”Somad engkau umatku”

Namaku Somad. Lahir di jurangmangu
duapuluh lima tahun yang lalu
kyai muda, belum pernah kawin.
Siapa mau mengambil aku jadi menantu?
Siapa sudi meminangaku jadi suami?

Sungguh , 99 kali orang tua datang dan pergi
melamar aku tapi hatiku bisu
karena istikharah selalu buntu.
Bapak, bapak, seandainya kau hidup
Sekali kau tunjuk, tentu aku setuju.

Terpuji Allah Ta’ala
sejahtera Rasulu-Llah Saw
menjanjikan 700 bidadari bermata bundar.
Hinggah aku mendapat kasyaf dalam tidur
dua gadis kembar tak ku kenal
lewat menebar wangi cendana.Siapa?

”Salam bagimu Somad,
bila Allah izinkan, kupinang kau
menjadi suami putri tunggalku
dan mewarisi seluruh hartaku.”

O bapak haji, tersanjung sekali hatiku
tapi lihatlah, Somad tak berbapak
tak beribu, tak punya sawah dan kerbau,
tuna ilmu dan pemalu.

”Kuundang kau makan malam di rumahku.”

Ketika meja dibersihkan
bidadari kutemui, bermata bundar
wahai, lagi-lagi bau cendana,
minum dan makanan di hidangkan,
wahai, lagi-lagi bau cendana,
seorang gadis membuka kerudungnya
wahai, bau cendana, cendana dan mawar,
cendana, mawar, dan melati,
cendana, mawar, melati dan kesturi.
Ruang ini menjadi toko minyak wangi
yang di buka tutup botolnya.
Bapak, anakmu Somad, mabuk!

”Namanya Mutia,
maukah kau menjadi suaminya?

Mutia? Inikah kembarannya?
Mutia, wanita pertama masuk surga.
Maukah Mutia menjadi pengantinku?

”kenapa tidak?
Asal kau pinang aku sesuai sunnah,
kau beri pula mas-kawin permintaanku.”

Bapak, bapak, anakmu Somad
tak punya apa-apa.

Ambillah ini, lima butir telur,
jangan direbus jangan dibelah.
Besok malam datanglah, bagi sama rata
antara bapak, aku dan kamu.”
Insya Allah.

”Semogah kau menjadi lelaki pertama
Dan yang terakhir untukku”

Sujud syukur berulang kali,
aku telah menemukan jodoh,
buah istikharah buah surgawi.
Gadis bau cendana, bau mawar, bau melati,
Bau kesturi, bau toko minyak wangi.
mas-kawinnya lima butir telur yang di bagi.....
Astaga!di bagi? Lima butir harus dibagi tiga
sama rata: aku, pak haji, dan Mutia?
Tanpa boleh di rebus dan di belah?
Mana mungkin?

Bapak, bapak, bapak!
ini tak ada di rumus metematikaku!
ini tak ada di ilmu mantiq dan lughat arab!
Bapak, kini aku gagal sudah,
anakmu Soamad tak jadi kawin
dan malu tak terkira.

Namaku Somad, lahir di jurangmangu
duapuluh lima tahun yang lalu
kyai muda belum pernah kawin
Dan tak akan pernah kawin
kalau begini akhirnya.
Sujud syukur menjadi sujud tawabin,
hati girang menjadi sesal.
Gusti, ampunilah kejahilan hamba-Mu.

”Salam bagimu Somad.”

Siapa di pintu?
”Aku Zainab, telah kudengar keluh kesahmu,
insyaAllah aku ’kan membantumu.”

Zainab? Gadis kutu buku dia, nyaris kulupa,
seorang hafidzah, ahli hujjah, wira’iah,
tak pernah kulihat kecantikan wajahnya,
akan menolongku?

Malam kedua di perjamuan,
wajahku pucat, tanganku gemetar
mengenggam telur hampir menetas.
Lima  dibagi tiga tanpa pecahan?
Tapi Zainab meraih telur dan membaginya:
Satu butir untukku, satu butir untuk pak haji,
Dan tiga butir untuk Mutia.
Edan , Zainab sudah edan, mana mungkin?!

”Mohon maaf  kelancangan saya
Somad dan pak haji cukup satu butir telur,
karena masing-masing telah punya dua telur
yang s’lalu dibawa pergi kemana-mana,
sedangkan Mutia yang tak punya,
harus dibagi tiga telur.
Kini, masing-masing membawa tiga telur
bukankah adil-rata namanya?”

Ilmu 15 tahun dipesantren lenyap rasanya
oleh satu kalimat bijak si Zainab
yang mulai membuka pardah
menampakkan perhiasan rambut, bibir,
hidung pipi, dagu, yang luar biasa indahnya.

”Kuterima lamaran Somad,
juga Zainab yang cerdik dan bijaksana
menjadi suami dan madu’ku”.







Jatu Cinta





SOMAD
Jatuh Cinta

Namaku Sonmad, lahir di Jurangmangu
Duapuluh tahun yang lalu,
Santri terbaik, calon kyai pilih tanding.

Guru-guruku bilang,

”Kalau toh ada nabi  masih hidup
itu lah Muhammad Sang Musthofa
RasuluLlah dan Khatam para Nabi”

Beliau telah datang padaku
menjadi bapak angkat
di usiaku sepuluh tahun.

Teman-temanku bilang,

”Kalau toh ada bapak paling sempurna
itulah Muhammad  Saw
Lebih baik semua bapak mati muda

Mencari Bapak





SOMAD
MENCARI BAPAK

Namaku Somad,lahir di Jurangmangu
sepuluh tahun yang lalu,
putus sekolah,kelas 2 SD

“Somad,jadilah anak yang baik,
Rajin belajar,menjadi sarjana.
Jangan seperti bapak,

Koreksi Diri Sendiri


PERKARA SEMANGKA
 
Tiga orang anak yang dituduh  telah  mencuri  buah  semangka
dibawa  ke  pengadilan  dan  menghadap hakim dengan perasaan
takut. Mereka berpikir akan menerima  hukuman  berat  karena
hakim itu dikenal sebagai orang yang sangat keras.
 
Hakim  itu juga seorang pendidik yang bijaksana. Dengan satu
ketokan palu ia berkata,  "Kalau  di  sini  ada  orang  yang
ketika  masih  anak-anak belum pernah mencuri buah semangka,
silakan tunjuk jari." Ia menunggu. Para pegawai  pengadilan,
polisi,  pengunjung  -  dan hakim sendiri - tetap meletakkan
tangan mereka di meja mereka.
 
Ketika sudah puas melihat bahwa tidak ada satu jari pun yang
diangkat  dalam  sidang  itu,  hakim  itu  berkata, "Perkara
ditolak."
 
                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Kayu Gung Susuhing Angin (Kayu besar tempat Angin bersarang)




Kalau Anda diminta oleh guru spiritual Anda untuk mencari sarang angin, apa yang akan Anda kerjakan? Mungkin Anda bingung, apa sih maksudnya? Lalu tidak mengerjakan apapun. Atau, mungkin Anda pergi ke pantai atau gunung tinggi yang banyak anginnya, sama persis ketika Bima Sena mendapat perintah untuk mencari Kayu Gung Susuhing Angin ( Kayu Besar tempat Angin bersarang) dari Resi Drona bapak gurunya. Bima si gagah berani pergi ke lepas pantai, bahkan masuk hingga dasar laut demi mendapatkan sarang angin. Berhasilkah Bima? Tidak. Karena sarang angin tidak berada dimana mana.

Ada masa masa ketika manusia terjebak pada konotasi leksikal. Apa yang didengar diterjemahkan apa adanya, seturut kehendak logika. Padahal sarang angin yang dimaksud oleh para guru spiritual adalah pusat pernapasan, sesuatu yang sudah ada dan menyatu di dalam diri kita. Pusat pernapasan yang lebih banyak terlupakan dari pada diingat. Itulah yang diminta oleh para guru untuk ditemukan. Selanjutnya, tentu saja untuk digunakan.

Loh, sarang angin kok digunakan? Benar. Kalau kita ingin sukses, bahagia, sehat lahir batin, pintar pintarlah menggunakan sarang angin. Paling tidak itulah nilai yang saya serap dari Bima Sena ketia ia mencari Kayu Gung Susuhing Angin (Kayu besar tempat Angin bersarang)

Resep transformasi ala Bima Sena waktu itu adalah, jangan terlalu mendewakan logika, rumus, kamus dan dogma. Mengartikan Kayu Gung Susuhing Angin menjadi: kayu besar tempat angin bersarang adalah mekanisme leksikon yang bisa jadi menyesatkan kahidupan kita. Gunakanlah kecerdasan spiritual untuk mengolah setiap pesan dari para guru.

Kayu dalam bahasa jawa juga disebut kajeng. Kajeng sinonim dengan karep, karsa, kemauan, cita cita, intensi dan doa.

Gung, adalah tembung wod yang menghasilkan kata Agung yang arinya besar, akbar, subhan, great.

Susuhing Angin bila di Indonesiakan menjadi ; sarang angin , dalam bahasa spiritual berarti pusat pernapasan

Coba simak, apa yang ingin dikatakan Resi Drona pada murid kinasihnya Bima? ”Jika kamu memiliki cita cita (kajeng) yang besar (Agung), carilah itu lewat pusat pernapasanmu!”. Ajaran itu cukup bagi kita untuk memahami esensi olah napas, meditasi dan relaksasi. Dalam konteks pewayangan Resi Drona mengatakan kepada Bima, bahwa ia akan memenangkan perang baratayudha kalau ia bisa menemukan Kayu Gung Susuhing Angin. Itu sama artinya dengan mengatakan, “Heh Bima Sena, kalau kamu ingin menang dalam perang Baratayudha, berdoalah lebih dahulu sebelum kamu beranjak ke medan laga”

Ajakan memenangi peparangan terhadap musuh, saat ini tidak lagi kontekstual. Karena kita tahu bahwa sesungguhnya musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, nafsu nafsu nya sendiri.

Kabar gembiranya adalah bahwa senjata penumpas yang sakti berupa ”Sarang Angin” sudah Anda punya sejak Anda memulai kehidupan ini. Cuma banyak diantara kita yang tidak tahu cara menggunakannya. Selamat bermeditasi.

R Budi Sarwono
Rawapening Ambarawa


Kepompong Kupu - Kupu




Aku minta pada Tuhan setangkai bunga segar,Dia beri aku Kaktus berduri.

Aku minta pada Tuhan hewan mungil nan cantik,Dia beri aku ulat berbulu.

aku sempat sedih,kecewa dan protes.Betapa tidak adilnya ini.

Namun kemudian,,,,,

kaktus itu berbunga sangat indah sekali,,,,,

Ulatpun tumbuh berubah menjadi kupu2 yang teramat sangat cantik ,,,,

Itulah jalanNYA indah pada waktunya,,,,

Dia Maha Tahu,,,

Maha Suci,,,,

Segala Puji BagiNYA,,,

Ada hikmah di balik itu semua,kadang sedih,berharap,dan kecewa,

tapi dengan KuasaNYA,,,

Jauh diatas nalar manusia Dia merajut yang terbaik untuk aku,,,

Merahnya Cinta & Putihnya Kasih Sayang




Suatu hari Burung jatuh cinta pada Mawar putih ,

Burungpun berusaha mengungkapkan perasaanya ,

Tapi Mawar Putih berkata "Aku takkan pernah bisa mencintaimu "

Burungpun tak begitu saja menyerah,,,,

Setiap hari dia datang tuk bertemu Mawar putih ,

Tida bosan walau seharian dia memandang pujaan hatinya ,

Akhirnya Mawar putih berkata,,,

"Aku akan berusaha mencintaimu, jika kamu dapat mengubah aku menjadi Mawar merah "

Dan suatu hari Burung datang kembali ,

Dia memotong sayapnya, dan menebarkan darahnya pada mawar putih ,

Seketika itu juga Mawar putih berubah menjadai merah, karena darah sang Burung ,

Akhirnya Mawar sadar seberapa besar Burung mencintai dirinya ,

Tapi sudah terlambat, Burung tak akan kembali lagi ke dunia,,,,


(" Mari Menghargai Siapapun yang Mencintai & Menyayangi kita ,Sebelum Mereka Meninggalkan Kita ")

Burung Merak Raja di Bawah Keranjang



HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS
Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
 
PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124
 
 
Bab 8: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
 
(12)  Seorang  raja  mempunyai  sebuah taman, yang sepanjang
empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau
subur   dan   menyenangkan.  Air  mengalir  berlimpah-limpah
melaluinya,  dan  segala   macam   burung   bernyanyi   dari
dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat
kita bayangkan terdapat di dalam taman itu.  Dan  di  antara
semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik.
 
Sekali  waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak,
dan memerintahkannya agar ia  dimasukkan  ke  dalam  kantung
kulit  supaya  bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia
tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan  cara  apa
pun.   Dia   juga   memerintahkan   agar  burung  merak  itu
ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang  hanya  mempunyai
satu  lubang,  melalui  lubang itu sedikit biji-bijian dapat
dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.
 
Lama waktu berlalu.  Burung  merak  itu  lupa  pada  dirinya
sendiri,  sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya.
Ia melihat  pada  dirinya  sendiri.  Burung  tersebut  tidak
melihat  apa-apa  kecuali  kantung  kulit yang kotor itu. Ia
mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap  dan  jelek;  ia
percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang
lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu,  sedemikian
rupa  sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika
ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal
atau   kesempurnaan   di  luar  yang  ia  ketahui,  maka  ia
menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong  kosong  besar
dan kebodohan yang murni.
 
Sekalipun  demikian,  setiap kali angin segar berhembus, dan
harumnya  bunga-bunga  dan  pepohonan,  violet  (=   sejenis
tumbuhan  yang  bunganya  berbau harum), melati dan tumbuhan
rempah-rempah sampai ke  hidung  burung  itu,  ia  merasakan
kesenangan  yang  mengejutkan  melalui  lubang  itu.  Timbul
kekhawatiran di dalam hatinya. Ia  merasakan  adanya  hasrat
untuk  pergi  dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari
mana kerinduan itu berasal,  sebab,  kecuali  kantung  kulit
itu,  ia  tidak  mengetahui  apa-apa;  selain keranjang itu,
tidak ada dunia lain;  selain  biji-bijian  itu,  tidak  ada
makanan   lain.   Ia   telah   melupakan   semuanya.  Ketika
sekali-sekali  ia  mendengar   suara   burung-burung   merak
bernyanyi,  dan  burung-burung  lain  berlagu, kerinduan dan
hasratnya  timbul;  tetapi  ia   tidak   terbangunkan   oleh
suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin. Pernah ia
bergairah memikirkan sarangnya.
Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku
dan hampir mengucapkan kata-kata,
'aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu.'
(13)  Lama  sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang
harum itu, dan  darimanakah  bunyi-bunyian  yang  indah  itu
datang.
Wahai kilat yang menyambar,
dari perlindungan siapa engkau muncul?
Tetapi ia tidak sadar-sadar juga,  meskipun  sepanjang  masa
itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.
Ah, kalau saja Laila sekali saja
mengirimkan salam karunianya, meskipun
diantara kami terbentang debu dan bebatuan besar.
 
Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya,
atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu,
burung sakit yang memekik di tengah keremangan
kuburan.
 
Burung  merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya
dan juga tanah airnya.
... janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti
orang yang melupakan Allah, yang  mengakibatkan
Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)
 
Setiap kali hembusan  angin  atau  suara-suara  datang  dari
taman,  timbul  hasrat  dalam  diri  si  burung  merak tanpa
mengetahui mengapa demikian.
 
Kedua baris ini adalah karya seorang penyair:
 
Kilat Ma'arra bergerak di tengah malam, ia
melewati malam di Rama yang melukiskan
kebosanannya.
 
Ia benar-benar menyedihkan para penunggang,
kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah
menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan
pelana-pelana  
            
catatan: baris-baris ini berasal
dari Al-Ma'arri, Siqth al-Zand. hal. 51).
 
(14) Ia tetap  kebingungan  selama  beberapa  waktu,  sampai
suatu   hari   sang   raja  memerintahkan  agar  burung  itu
dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk  dibawa
menghadapnya.
 
Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan
satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)
 
Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah
dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah
terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan
mereka pada hari itu maha mengetahui
keadaannya. (QS 100:9-11)
 
Ketika  burung  keluar  dari  penutupnya,  burung  merak itu
melihat  dirinya  berada  di  tengah-tengah  taman.   Ketika
memandang  bulu-bulunya  sendiri,  dan melihat taman beserta
aneka  ragam  bunganya,  atmosfir  dunia,  kesempatan  untuk
berjalan  kesana-kemari  dan  terbang  tinggi,  serta  semua
suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri
mendesah  seakan-akan  tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik
'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).
 
Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam
memenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56)
 
Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi
matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS
50:22)
 
Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
padahal ketika itu kamu melihat orang yang
sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami
lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu,
namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85)
 
Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu
akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu,
kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS
102:3-4)

HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS


HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS
Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
 
PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124 

  
Bab 7: Burung Hoopoe dan Burung Hantu
 
(11) Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di
lingkungan beberapa burung  hantu,  lalu  mampir  di  sarang
mereka.  Nah,  sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat
Arab, burung hoopoe  termasyhur  karena  ketajaman  matanya,
sementara  burung-burung  hantu  itu  pada  siang hari buta.
Burung hoopoe melewatkan  malam  itu  bersama  burung-burung
hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang
segala macam hal. Pada waktu  fajar,  ketika  burung  hoopoe
berkemas  dan  siap  untuk  pergi, burung-burung  hantu  itu
berkata, 'Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa  yang  akan
kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?'
 
'Ini   mengherankan,'   kata  si  hoopoe,  'Semua  pekerjaan
berlangsung pada siang hari.'
 
'Apakah kamu gila?' burung-burung hantu itu bertanya.  'Pada
siang  hari,  dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari
atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?'
 
'Justru sebaliknya,' kata si hoopoe, 'Semua cahaya di  dunia
ini  tergantung  pada cahaya matahari, dan darinyalah segala
sesuatu   yang   bersinar   itu    mendapatkan    cahayanya.
Sesungguhnya   ia  dinamakan  "mata  dari  hari,"  sebab  ia
merupakan sumber cahaya.'
 
Tetapi burung-burung hantu  itu  mengira  dapat  mengalahkan
logika  si  hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun
dapat melihat pada siang hari.
 
'Janganlah  beranggapan  bahwa  lewat  analogi  dengan  diri
kalian  sendiri  setiap orang itu seperti kalian. Semua yang
lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku  dapat
melihat,  aku  berada  di  dunia  yang  dapat dilihat, dapat
diamati. Ketidakjelasan itu  telah  hilang,  dan  aku  dapat
mengenali    permukaan    yang    cemerlang   dengan   jalan
menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.'
 
Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi
ribut   menjerit-jerit  dan,  sambil  bertengkar  satu  sama
lainnya,  mereka  berkata,  'Burung  ini  berbicara  tentang
kemampuan  melihat  pada  siang  hari, ketika kita terserang
kebutaan.' Dengan segera  mereka  menyerang  si  hoopoe  dan
melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya
dengan memanggilnya 'si  melek-siang-hari;'  sebab  kebutaan
pada  siang  hari  merupakan  kewajaran  di kalangan mereka.
'Jika  kamu  tidak  menarik  kembali  perkataanmu,'   mereka
berkata, 'kamu akan dibunuh!'
 
'Jika  aku  tidak  membuat  diriku  buta,'  pikir si hoopoe,
'mereka akan membunuhku. Karena mereka  merasakan  kesakitan
terutama  pada  mata  mereka,  kebutaan  dan  kematian  akan
terjadi  secara  serentak.'  Dan  kemudian,  diilhami   oleh
pepatah,  'Berbicaralah  dengan  orang-orang  sesuai  dengan
tingkat kecerdasan mereka,' dia menutup matanya dan berkata,
'Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.'
 
Melihat  memang  demikianlah halnya, mereka berhenti memukul
dan  melukai  si  burung  hoopoe,   yang   menyadari   bahwa
mengungkap  rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak
percaya  sama  saja  dengan  menyebarkan  rahasia  kekafiran
mereka.  Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara
susah  payah  dia  bertahan  dengan  berpura-pura  buta  dan
berkata:
 
Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan
menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana
ini.
 
Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya
hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah
mengunci] bibirku dengan seribu paku.
 
Dia mengeluh dalam-dalam  dan  berkata,  'Dalam  diriku  ada
banyak   pengetahuan;   jika  aku  melepaskannya,  aku  akan
terbunuh.'
 
Jika selubung itu  diangkat, aku tidak akan
menjadi lebih yakin  (catatan: perkataan  ini
diyakini berasal dari 'Ali ibn Abi Thalib).
 
Agar mereka  menyembah  Allah  yang  mengungkapkan
segala  yang terpendam  di langit dan di bumi
serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan
dinyatakan. (QS 27:25)
 
Jelaslah, tidak  sesuatu pun yang tidak
dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak
mengaruniakan  semua kebutuhan itu, kecuali dengan
kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )


Bunglon dan Kelelawar

HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS
Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
 
PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124
 
 
Bab 6: Bunglon dan Kelelawar
 
(10) Suatu kali pernah timbul pertentangan  antara  beberapa
ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka
sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu  sudah
melampaui  batas.  Para  kelelawar  setuju  bahwa  jika saat
petang  menjelang  malam  telah   menyebar   melalui   ceruk
lingkaran  langit,  dan  matahari  telah  turun  di  hadapan
bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari,  mereka
akan   bersama-sama   menyerang   si  bunglon  dan,  setelah
menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka  hati  dan
melampiaskan  dendam.  Ketika  saat  yang  dinantikan  tiba,
mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama
menyeret  bunglon  yang  malang dan tak berdaya itu ke dalam
sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.
 
Ketika fajar tiba, mereka  bertanya-tanya  apakah  sebaiknya
bunglon  itu  disiksa  saja.  Mereka  semua setuju bahwa dia
harus dibunuh, tetapi mereka  masih  merencanakan  bagaimana
cara  terbaik  untuk  melaksanakan pembunuhan  itu. Akhirnya
mereka memutuskan  bahwa  siksaan  yang  paling  menyakitkan
adalah  dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri
tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan,  selain
berada  dekat  dengan  matahari; dan, dengan membuat analogi
dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam  supaya  dia
memandang   matahari.   Bunglon   itu,  sudah  pasti,  tidak
mengharapkan yang lebih baik lagi. 'Penghukuman' semacam itu
persis  seperti  yang  diinginkannya,  sebagaimana dikatakan
oleh Husayn Manshur,
 
Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan
terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada
dalam  kematianku, dan kematianku ada dalam
hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat
dalam Al-Hallaj, 14.1)
 
Maka  ketika  matahari terbit, mereka membawanya keluar dari
rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh  cahaya
matahari,   siksaan   yang   sesungguhnya   merupakan  jalan
keselamatan baginya.
 
Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur
dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak!
Bahkan mereka hidup. Mereka  mendapat rizki dan
Tuhannya. (QS 3:169)
 
Kalau  saja  para  kelelawar  itu  tahu  betapa  murah  hati
tindakan  mereka  terhadap  bunglon  itu,  dan betapa mereka
telah  berbuat  keliru,  karena  mereka  justru   memberinya
kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani
berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka
telah  mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka
pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia
'Aththar, Tadzkirah, hal. 282)

Nasehat Dari Aksara Jawa




Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

A. Pembukaan Huruf Jawa


1. Huruf Ha
Berarti ‘hidup’, atau huruf berarti juga ada hidup, sebab memang hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup, hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu:
a. Api
b. Angin
c. Bumi
d. Air


2. Huruf Na
Berari ‘nur’ atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.


3. Huruf Ca
Berarti ‘cahaya’, artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.


4. Huruf Ra
Berarti ‘roh’, yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.


5. Huruf Ka
Berarti ‘berkumpul’, yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia.


6. Huruf Da
Berarti ‘zat’, ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.


7. Huruf Ta
Berarti ‘tes’ atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.


8. Huruf Sa
Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.


9. Huruf Wa
Berarti ‘wujud’ atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.


10. Huruf La
Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.


11. Huruf Pa
Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).


12. Huruf Dha
Berarti dhawuh, yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.


13. Huruf Ja
Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.


14. Huruf Ya
Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.


15. Huruf Nya
Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.


16. Huruf Ma
Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.


17. Huruf Ga
Berarti ‘gaib’, gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.


18. Huruf Ba
Berarti ‘babar’, yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME.


19. Huruf Tha
Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut).

20. Huruf Nga 

Berarti ‘ngalam’, ‘yang bersinar terang’, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.
Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa. 


B. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20


1. Huruf Ha + Nga
Hanga berarti angan-angan.

Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra, seperti:

1. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan.
2. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan.
3. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan.
4. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan.
5. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan.

2. Huruf Na + Ta 

Noto, berarti ‘nutuk’.


3. Huruf Ca + Ba
Caba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu; adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.


4. Huruf Ra + Ga
Raga, berarti ‘badan awak/diri’. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.


5. Huruf Ka + Ma 

Kama, berarti ‘komo’ atau biji, bibit, benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup; oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga, dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai.


6. Huruf Da + Nya
Danya atau donya atau dunia.
Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya; dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.


7. Huruf Ta + Ya
Taya atau toya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan, memandikan dsb); karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.


8. Huruf Sa + Ja
Saja atau siji atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.


9. Huruf Wa + Da
Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atau tempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu.
Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu.


Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah, sebab rumah merupakan wadah manusia, dan manusia merupakan isi dari rumah. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.
Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.


Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang bearti masih suwung atau kosong. Meskipun begitu, “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.



10. Huruf La + Pa
Lapa atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya, hidup kembali kepada yang menciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula.



Wallahua’lam