Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidupnya
Pertama, orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.
Kedua, orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya diluar kemampuannya, hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak daripada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri.
Raja ini sangat mencintai isteri keempatnya dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang isteri.
Dia juga sangat memuja isteri ketiganya dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya.
Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri ketiga karena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu.
Isteri pertama raja adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam pemeliharaan kekayaannya maupun untuk kerajaannya. Akan tetapi, si raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini meskipun sang isteri begitu mencintainya, tetap saja sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isterinya itu.
Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia sadar bahwa kematiannya sudah dekat.
Sambil merenungi kehidupannya yang sangat mewah itu, sang raja lalu berpikir, “Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri”.
Lalu, bertanyalah ia pada isteri keempatnya, “Sampai saat ini, aku paling mencintaimu, aku sudah menghadiahkanmu pakaian-pakaian yang paling indah dan memberi perhatian yang sangat besar hanya untukmu.
Sekarang aku sekarat, apakah kau akan mengikuti dan tetap menemaniku?”
“Tidak akan!” balas si isteri keempat itu, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Jawaban isterinya itu bagaikan pisau yang begitu tepat menusuk jantungnya.
Raja yang sedih itu kemudian berkata pada isteri ketiganya, “Aku sangat memujamu dengan seluruh jiwaku. Sekarang aku sekarat, apakah kau tetap mengikuti dan selalu bersamaku?”
“Tidak!” sahut sang isteri. “Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!”
Perasaan sang rajapun hampa dan membeku.
Betapa banyak orang yang gamang menghadapi hari tua. Takut tak memiliki harta yang cukup saat tubuh tak lagi kuat bekerja. Takut kebutuhan hidup tak terpenuhi saat pendapatan tak lagi ada. Maka, kasak-kusuk orang mencari solusi mengatasi kegamangan ini. Tak heran bila kemudian pegawai negeri sipil banyak diminati para pencari kerja meski –konon- gajinya lebih kecil dari pegawai swasta.
Alasannya, pegawai negeri sipil menjamin masa tua. Para pegawai swasta pun tak mati asa. Mereka ikut asuransi hari tua. Mereka rela pendapatannya dipotong setiap bulan. Begitu juga mereka yang tak akrab dengan asuransi, memilih untuk mengumpulkan sendiri rupiah demi rupiah di pundi-pundi mereka.
Alangkah piciknya kita jika hanya sibuk mempersiapkan diri sebatas hari tua saja! Padahal, setelah hari tua, ada masa yang jauh lebih penting untuk kita persiapkan bekalnya. Masa setelah kematian menjemput kita. Masa ini jauh lebih lama ketimbang masa tua kita. Bahkan kita akan kekal berada didalamnya. Masa ini meminta konsekuensi jauh lebih berat ketimbang masa tua kita. Jika tak kita persiapkan dengan matang, maka penderitaan yang sungguh tak tertahankan bakal menanti kita. Sebaliknya, jika kita persiapkan dengan baik, maka kebahagiaan yang sungguh tak terbayangkan bakal menyambut kita.
Sayangnya, banyak diantara kita yang lebih merasa gamang menghadapi mas tua ketimbang masa ini. Banyak diantara kita yang lalai, seolah-olah masa ini masih lama. Padahal, masa ini bisa terjadi jauh-jauh hari sebelum masa tua tiba. Bahkah ia bisa datang esok, saat kita berada di usia “emas”. Atau jangan-jangan…???!,, Astaghfirullah hal adzim…,,
Jadi, sebelum tiba masa di mana nafas sudah tersekat di tenggorokan, lekas kumpulkan bekal! Mumpung sekarang belum terlambat.
“Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh.
Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.”
Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah
“Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah,
agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati
dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir
“Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka
di sekolah Islami yang baik meskipun mahal,
beri aku rizki untuk itu ya Allah….”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah
“Ya Allah….. jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral
Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja
“Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang
mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena
dia ibarat buah yang sedang ranum.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa
“Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang
bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami.”
Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah “Ya Allah jangan kau putuskan
tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan
dia karena dia akan ikut suaminya.”
Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan
“Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat.
Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan
teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya
cucuku.”
Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan
berkata……
“Engkau ingin suami yang baik dan sholeh
sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam,
akankah engkau jadi makmum yang baik?”
“Engkau ingin anak yang sholehah,
sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu……
masa engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu….
tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku,
karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku.”
“Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam,
karena apa?…… prestige? …… atau….
engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar,
Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya.”
“Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan
mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan
umat-Ku.”
“Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik
maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan.”
“Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku,
bahkan ketika dia melupakan-Ku.
Aku tetap mencintainya.”
“Anakmu adalah amanahmu,
cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan
untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya.”
Lantas…… aku malu…… dengan imajinasiku sendiri….
aku malu……
aku malu akan tuntutanku…….
Maafkan aku ya Allah……
oleh: Ratih Sanggarwati. SuMber : MAilingList: As-Syifa
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau bakso ?
“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita -cita penyempurnaan iman “.
“Maksudnya.. …?”, saya melanjutkan bertanya.
“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat…… …..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.
Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.
“Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.
“Ta, hafalannya udah nambah belum?” “Mmm… Mmm… Belum.” Begitu terus pertanyaan papah dan begitu terus jawabanku. Menjaga yang sudah ada saja sulit, begitu pikirku dan aku berusaha untuk muroja’ah saja. Nyatanya untuk muroja’ah saja tanpa ziyadah memang sudah sangat susah.
Aku bukan penggemar seorang Mario Teguh, hanya waktu itu kebetulan televisi yang dinyalakan sedang menayangkan Golden Ways. “Jangan risaukan akan kekurangan-kekurangan kita, tapi maksimalkan kelebihan yang kita miliki walaupun hanya satu bidang.” Saat itu aku berfikir dan menyadari ternyata selama ini aku memang selalu berputar-putar pada kekuranganku. Tanpa pernah memaksimalkan kelebihan yang aku miliki.
Selepas Ramadhan maka mulailah kulanjutkan ziyadahku. Sejak sampai SMU ziyadahku hanya mentok di juz 26. Juz 25 ayatnya mulai susah, kurang familiar, dan panjang-panjang. Mungkin ini karena kurang motivasi saja. Saat kuliah aku ikut lembaga tahfidz qur’an An-Nur. Awalnya diajak oleh senior satu wisma. Sempat pikir-pikir juga sih karena biayanya cukup mahal untuk ukuran anak kos yang jauh dari orang tua.
Ternyata di wisma ada tiga orang senior dan satu orang temanku yang juga ikut, aku jadi semangat karena ada teman. Di An-Nur memang menganjurkan ziyadah mulai dari depan (Al-Baqoroh). Akhirnya mulailah aku berkutat di Al-Baqoroh. Ayatnya ternyata memang relatif lebih mudah, easy listening rasanya. Dan lagi-lagi hanya mentok di akhir Al-Baqoroh. Karena kesibukan (yang sebenarnya mungkin hanya alasan semata) dan
Aksårå Hånåcåråkå ( utåwå ) iku sarupaníng aksårå síng kaanggo ing Tanah Jåwå lan saubêngé kåyå tå ing Madurå, Bali, Lómbók lan ugå Tatar Sundhå.
Aksårå Hånåcåråkå iku ugå diarani aksårå Jåwå nangíng sajatiné ukårå iki kurang srêg amargå aksårå Jåwå iku warnané akèh saliyané iku aksårå iki ora namúng diênggo nulís båså Jåwå waé.
Aksårå iki uga diênggo nulís båså Sangskrêta, båså Arab, båså Bali, båså Sundhå, basa Madurå, båså Sasak lan ugå båså Mêlayu.
Nangíng ing artikêl iki ukårå Hånåcåråkå lan aksårå Jåwå diênggo loro-loroné lan yèn ånå ukårå aksårå Jåwå síng dirujúk iku aksårå Hånåcåråkå.
Aksårå Hånåcåråkå kagólóng aksårå jinis abugida utåwå hibridha antårå aksårå silabik lan aksårå alfabèt.
Aksårå silabik iki têgêsé yèn sabên aksårå ugå nyandhang sawijiníng swårå. Hanacaraka kalêbu kulåwargå aksårå Brahmi síng asalé såkå Tanah Hindhústan.
Yèn bêntúké, aksårå Hånåcåråkå ånå wís kåyå saiki wiwít minimal abad kapíng 17.
Aksårå Hånåcåråkå iki jênêngé dijupúk såkå limang aksårå wiwitané. Étimologi lan lêgèndha asal Aksårå Hånåcåråkå jênêngé dijupúk såkå urutan limang aksårå wiwítan iki síng uniné "hånå cåråkå".
Urutan dhasar aksårå Jåwå nglêgêna iki cacahé ånå róngpulúh lan nglambangaké kabèh foném båså Jåwå.
Urutan aksårå iki kåyå mêngkéné:
hå nå cå rå kå
då tå så wå lå
på dhå jå yå nyå
må gå bå thå ngå
Urutan ukårå iki digawé miturút lêgèndha yèn aksårå Jåwå iku diastå déníng Aji Såkå såkå Tanah Hindhústan mênyang Tanah Jåwå.
Banjúr Aji Såkå ngarang urutan aksårå kåyå mêngkéné kanggo mèngêti róng pånåkawané síng sêtyå nganti pati: Dorå lan Sêmbådå.
Loroné mati amêrgå ora bisa mbúktèkaké dhawuhé sang ratu.
Mulå Aji Såkå banjúr nyiptakaké aksårå Hånåcåråkå supåyå biså kanggo nulís layang.
Caritané kåyå mêngkéné:
Kacaritå ing jaman mbiyèn ånå wóng såkå Tanah Hindhústan anóm jênêngé Aji Såkå.
Dhèwèké putrané ratu, nangíng kêpéngín dadi pandhitå síng pintêr.
Kasênêngané mulang kawrúh rupå-rupå. Dhèwèké banjúr péngín lunga mêncaraké ngèlmu kawruh ing Tanah Jåwå.
Banjúr anuju sawijiníng dinå Aji Såkå sidå mangkat mênyang Tanah
Suatu hari Junaid Al-Banghdadi sakit mata. Ia diberitahu oleh seorang tabib, jika ingin cepat sembuh jangan sampai matanya terkena air.
Ketika tabib itu pergi, ia nekad berwudhu membasuh mukanya untuk sholat kemudian tidur. Anehnya, sakit matanya malah menjadi sembuh. Saat itu terdengar suara "Junaid menjadi sembuh matanya kerana ia lebih ridha kepada-Ku". Seandainya ahli neraka minta kepada-Ku dengan semangat Junaid niscaya Aku luluskan permintaannya." Kata suara itu.
Tabib yang melihat mata Junaid sembuh itu menjadi keheranan, "Apa yang telah engkau lakukan?"
"Aku telah membasuh muka dan mataku kemudian sholat", ujarnya."
Tabib itu memang beragama Nashrani, dan setelah melihat peristiwa itu, dia beriman. "Itu ubat dari Tuhan yang menciptakan sakit itu. Dia pulalah yang menciptakan ubatnya. Aku ini sebenarnya yang sakit mata hatiku, dan Junaidlah tabibnya."
PERKARA SEMANGKA
Tiga orang anak yang dituduh telah mencuri buah semangka
dibawa ke pengadilan dan menghadap hakim dengan perasaan
takut. Mereka berpikir akan menerima hukuman berat karena
hakim itu dikenal sebagai orang yang sangat keras.
Hakim itu juga seorang pendidik yang bijaksana. Dengan satu
ketokan palu ia berkata, "Kalau di sini ada orang yangketika masih anak-anak belum pernah mencuri buah semangka,silakan tunjuk jari." Ia menunggu. Para pegawai pengadilan,
polisi, pengunjung - dan hakim sendiri - tetap meletakkan
tangan mereka di meja mereka.
Ketika sudah puas melihat bahwa tidak ada satu jari pun yang
diangkat dalam sidang itu, hakim itu berkata, "Perkara
ditolak."
(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)
Kalau Anda diminta oleh guru spiritual Anda untuk mencari sarang angin, apa yang akan Anda kerjakan? Mungkin Anda bingung, apa sih maksudnya? Lalu tidak mengerjakan apapun. Atau, mungkin Anda pergi ke pantai atau gunung tinggi yang banyak anginnya, sama persis ketika Bima Sena mendapat perintah untuk mencari Kayu Gung Susuhing Angin ( Kayu Besar tempat Angin bersarang) dari Resi Drona bapak gurunya. Bima si gagah berani pergi ke lepas pantai, bahkan masuk hingga dasar laut demi mendapatkan sarang angin. Berhasilkah Bima? Tidak. Karena sarang angin tidak berada dimana mana.
Ada masa masa ketika manusia terjebak pada konotasi leksikal. Apa yang didengar diterjemahkan apa adanya, seturut kehendak logika. Padahal sarang angin yang dimaksud oleh para guru spiritual adalah pusat pernapasan, sesuatu yang sudah ada dan menyatu di dalam diri kita. Pusat pernapasan yang lebih banyak terlupakan dari pada diingat. Itulah yang diminta oleh para guru untuk ditemukan. Selanjutnya, tentu saja untuk digunakan.
Loh, sarang angin kok digunakan? Benar. Kalau kita ingin sukses, bahagia, sehat lahir batin, pintar pintarlah menggunakan sarang angin. Paling tidak itulah nilai yang saya serap dari Bima Sena ketia ia mencari Kayu Gung Susuhing Angin (Kayu besar tempat Angin bersarang)
Resep transformasi ala Bima Sena waktu itu adalah, jangan terlalu mendewakan logika, rumus, kamus dan dogma. Mengartikan Kayu Gung Susuhing Angin menjadi: kayu besar tempat angin bersarang adalah mekanisme leksikon yang bisa jadi menyesatkan kahidupan kita. Gunakanlah kecerdasan spiritual untuk mengolah setiap pesan dari para guru.
Kayu dalam bahasa jawa juga disebut kajeng. Kajeng sinonim dengan karep, karsa, kemauan, cita cita, intensi dan doa.
Gung, adalah tembung wod yang menghasilkan kata Agung yang arinya besar, akbar, subhan, great.
Susuhing Angin bila di Indonesiakan menjadi ; sarang angin , dalam bahasa spiritual berarti pusat pernapasan
Coba simak, apa yang ingin dikatakan Resi Drona pada murid kinasihnya Bima? ”Jika kamu memiliki cita cita (kajeng) yang besar (Agung), carilah itu lewat pusat pernapasanmu!”. Ajaran itu cukup bagi kita untuk memahami esensi olah napas, meditasi dan relaksasi. Dalam konteks pewayangan Resi Drona mengatakan kepada Bima, bahwa ia akan memenangkan perang baratayudha kalau ia bisa menemukan Kayu Gung Susuhing Angin. Itu sama artinya dengan mengatakan, “Heh Bima Sena, kalau kamu ingin menang dalam perang Baratayudha, berdoalah lebih dahulu sebelum kamu beranjak ke medan laga”
Ajakan memenangi peparangan terhadap musuh, saat ini tidak lagi kontekstual. Karena kita tahu bahwa sesungguhnya musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, nafsu nafsu nya sendiri.
Kabar gembiranya adalah bahwa senjata penumpas yang sakti berupa ”Sarang Angin” sudah Anda punya sejak Anda memulai kehidupan ini. Cuma banyak diantara kita yang tidak tahu cara menggunakannya. Selamat bermeditasi.
Bab 8: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
(12) Seorang raja mempunyai sebuah taman, yang sepanjang
empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau
subur dan menyenangkan. Air mengalir berlimpah-limpah
melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari
dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat
kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di antara
semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik.
Sekali waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak,
dan memerintahkannya agar ia dimasukkan ke dalam kantung
kulit supaya bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia
tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan cara apa
pun. Dia juga memerintahkan agar burung merak itu
ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang hanya mempunyai
satu lubang, melalui lubang itu sedikit biji-bijian dapat
dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.
Lama waktu berlalu. Burung merak itu lupa pada dirinya
sendiri, sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya.
Ia melihat pada dirinya sendiri. Burung tersebut tidak
melihat apa-apa kecuali kantung kulit yang kotor itu. Ia
mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap dan jelek; ia
percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang
lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu, sedemikian
rupa sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika
ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal
atau kesempurnaan di luar yang ia ketahui, maka ia
menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong kosong besar
dan kebodohan yang murni.
Sekalipun demikian, setiap kali angin segar berhembus, dan
harumnya bunga-bunga dan pepohonan, violet (= sejenis
tumbuhan yang bunganya berbau harum), melati dan tumbuhan
rempah-rempah sampai ke hidung burung itu, ia merasakan
kesenangan yang mengejutkan melalui lubang itu. Timbul
kekhawatiran di dalam hatinya. Ia merasakan adanya hasrat
untuk pergi dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari
mana kerinduan itu berasal, sebab, kecuali kantung kulit
itu, ia tidak mengetahui apa-apa; selain keranjang itu,
tidak ada dunia lain; selain biji-bijian itu, tidak ada
makanan lain. Ia telah melupakan semuanya. Ketika
sekali-sekali ia mendengar suara burung-burung merak
bernyanyi, dan burung-burung lain berlagu, kerinduan dan
hasratnya timbul; tetapi ia tidak terbangunkan oleh
suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin. Pernah ia
bergairah memikirkan sarangnya.
Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku
dan hampir mengucapkan kata-kata,
'aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu.'
(13) Lama sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang
harum itu, dan darimanakah bunyi-bunyian yang indah itu
datang.
Wahai kilat yang menyambar,
dari perlindungan siapa engkau muncul?
Tetapi ia tidak sadar-sadar juga, meskipun sepanjang masa
itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.
Ah, kalau saja Laila sekali saja
mengirimkan salam karunianya, meskipun
diantara kami terbentang debu dan bebatuan besar.
Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya,
atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu,
burung sakit yang memekik di tengah keremangan
kuburan.
Burung merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya
dan juga tanah airnya.
... janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti
orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan
Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)
Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari
taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa
mengetahui mengapa demikian.
Kedua baris ini adalah karya seorang penyair:
Kilat Ma'arra bergerak di tengah malam, ia
melewati malam di Rama yang melukiskan
kebosanannya.
Ia benar-benar menyedihkan para penunggang,
kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah
menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan
pelana-pelana
catatan: baris-baris ini berasal
dari Al-Ma'arri, Siqth al-Zand. hal. 51).
(14) Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai
suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu
dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa
menghadapnya.
Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan
satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)
Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah
dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah
terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan
mereka pada hari itu maha mengetahui
keadaannya. (QS 100:9-11)
Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu
melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika
memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta
aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk
berjalan kesana-kemari dan terbang tinggi, serta semua
suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri
mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik
'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).
Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam
memenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56)
Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi
matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS
50:22)
Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
padahal ketika itu kamu melihat orang yang
sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami
lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu,
namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85)
Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu
akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu,
kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS
102:3-4)
Bab 7: Burung Hoopoe dan Burung Hantu
(11) Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di
lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang
mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat
Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya,
sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta.
Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung
hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang
segala macam hal. Pada waktu fajar, ketika burung hoopoe
berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu
berkata, 'Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa yang akan
kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?'
'Ini mengherankan,' kata si hoopoe, 'Semua pekerjaan
berlangsung pada siang hari.'
'Apakah kamu gila?' burung-burung hantu itu bertanya. 'Pada
siang hari, dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari
atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?'
'Justru sebaliknya,' kata si hoopoe, 'Semua cahaya di dunia
ini tergantung pada cahaya matahari, dan darinyalah segala
sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya.
Sesungguhnya ia dinamakan "mata dari hari," sebab ia
merupakan sumber cahaya.'
Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat mengalahkan
logika si hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun
dapat melihat pada siang hari.
'Janganlah beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri
kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang
lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat
melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat
diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat
mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan
menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.'
Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi
ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar satu sama
lainnya, mereka berkata, 'Burung ini berbicara tentang
kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang
kebutaan.' Dengan segera mereka menyerang si hoopoe dan
melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya
dengan memanggilnya 'si melek-siang-hari;' sebab kebutaan
pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka.
'Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,' mereka
berkata, 'kamu akan dibunuh!'
'Jika aku tidak membuat diriku buta,' pikir si hoopoe,
'mereka akan membunuhku. Karena mereka merasakan kesakitan
terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan
terjadi secara serentak.' Dan kemudian, diilhami oleh
pepatah, 'Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan
tingkat kecerdasan mereka,' dia menutup matanya dan berkata,
'Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.'
Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul
dan melukai si burung hoopoe, yang menyadari bahwa
mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak
percaya sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran
mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara
susah payah dia bertahan dengan berpura-pura buta dan
berkata:
Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan
menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana
ini.
Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya
hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah
mengunci] bibirku dengan seribu paku.
Dia mengeluh dalam-dalam dan berkata, 'Dalam diriku ada
banyak pengetahuan; jika aku melepaskannya, aku akan
terbunuh.'
Jika selubung itu diangkat, aku tidak akan
menjadi lebih yakin (catatan: perkataan ini
diyakini berasal dari 'Ali ibn Abi Thalib).
Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan
segala yang terpendam di langit dan di bumi
serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan
dinyatakan. (QS 27:25)
Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak
dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak
mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan
kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )
HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS
Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124
Bab 6: Bunglon dan Kelelawar
(10) Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa
ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka
sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah
melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat
petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk
lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan
bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka
akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah
menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan
melampiaskan dendam. Ketika saat yang dinantikan tiba,
mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama
menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam
sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.
Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya
bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia
harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana
cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Akhirnya
mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan
adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri
tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain
berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi
dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia
memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak
mengharapkan yang lebih baik lagi. 'Penghukuman' semacam itu
persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan
oleh Husayn Manshur,
Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan
terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada
dalam kematianku, dan kematianku ada dalam
hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat
dalam Al-Hallaj, 14.1)
Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari
rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya
matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan
keselamatan baginya.
Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur
dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak!
Bahkan mereka hidup. Mereka mendapat rizki dan
Tuhannya. (QS 3:169)
Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati
tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka
telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya
kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani
berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka
telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka
pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia
'Aththar, Tadzkirah, hal. 282)
Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.
A. Pembukaan Huruf Jawa
1. Huruf Ha
Berarti ‘hidup’, atau huruf berarti juga ada hidup, sebab memang hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup, hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu:
a. Api
b. Angin
c. Bumi
d. Air
2. Huruf Na
Berari ‘nur’ atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.
3. Huruf Ca
Berarti ‘cahaya’, artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.
4. Huruf Ra
Berarti ‘roh’, yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.
5. Huruf Ka
Berarti ‘berkumpul’, yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia.
6. Huruf Da
Berarti ‘zat’, ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.
7. Huruf Ta
Berarti ‘tes’ atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.
8. Huruf Sa
Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.
9. Huruf Wa
Berarti ‘wujud’ atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.
10. Huruf La
Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.
11. Huruf Pa
Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).
12. Huruf Dha
Berarti dhawuh, yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.
13. Huruf Ja
Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.
14. Huruf Ya
Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.
15. Huruf Nya
Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.
16. Huruf Ma
Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.
17. Huruf Ga
Berarti ‘gaib’, gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.
18. Huruf Ba
Berarti ‘babar’, yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME.
19. Huruf Tha
Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut).
20. Huruf Nga
Berarti ‘ngalam’, ‘yang bersinar terang’, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.
Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.
Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.
B. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20
1. Huruf Ha + Nga
Hanga berarti angan-angan.
Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra, seperti:
1. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan.
2. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan.
3. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan.
4. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan.
5. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan.
2. Huruf Na + Ta
Noto, berarti ‘nutuk’.
3. Huruf Ca + Ba
Caba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu; adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.
4. Huruf Ra + Ga
Raga, berarti ‘badan awak/diri’. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.
5. Huruf Ka + Ma
Kama, berarti ‘komo’ atau biji, bibit, benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup; oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga, dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai.
6. Huruf Da + Nya
Danya atau donya atau dunia.
Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya; dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.
7. Huruf Ta + Ya
Taya atau toya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan, memandikan dsb); karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.
8. Huruf Sa + Ja
Saja atau siji atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.
9. Huruf Wa + Da
Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atau tempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu.
Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu.
Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah, sebab rumah merupakan wadah manusia, dan manusia merupakan isi dari rumah. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.
Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.
Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang bearti masih suwung atau kosong. Meskipun begitu, “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.
10. Huruf La + Pa
Lapa atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya, hidup kembali kepada yang menciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula.