Tampilkan postingan dengan label Cerita Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sufi. Tampilkan semua postingan

Keajaiban ISTIGHFAR

Saya punya kenalan seorang ustad yang sukses menjadi penolong banyak permasalahan orang. Mulai pingin jodoh, seret rejeki, hingga ingin punya anak. Ternyata saran dia sangat sederhana pada orang-orang tersebut, yaitu membaca ISTIGHFAR minimal 100x sehari….!

Tahukah anda? Istighfar sama juga dengan sedekah. Pahala dan efek yang ditimbulkan dari amalan ini berhubungan erat dengan

Bernafas Dengan SUBHANALLAH

Bacaan Subhanallah

Perkembangan dan pertumbuhan jiwa, rohani, batin, spiritual dan religius/keagamaan memerlukan makanan. Makanannya adalah ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Bentuk ibadah itu sendiri dapat dilakukan oleh fisik/jasmani manusia terbukti dan nyata, tetapi sistem yang akan mengolah makanan ibadah tadi ada pada diri manusia namun tidak dapat dilihat walaupun nyata dapat dilaksanakan.


Dengan melakukan tarikan nafas disertai bacaan “Subhanallah”, bacaan “Subhanallah” cukup hanya

Suluk Sunan Bonang

 
Suluk Sunan Bonang
Kutipan Suluk Sunan Bonang Bait ke-12 ;

Sunan Bonang menghubungkan hakikat salat berkaitan dengan pengenalan diri, sebab dengan
melakukan salat seseorang sebenarnya berusaha mengenal dirinya sebagai ‘yang menyembah’, dan
sekaligus berusaha mengenal Tuhan sebagai ‘Yang Disembah’. Pada bait ke-12 dan selanjutnya Sunan
Bonang menulis:

12
Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia

13
Apakah salat yang sebenar-benar salat?

Tersesat Di Syurga


Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,

Abu Nawas Mencangkul Di Penjara

Abu Nawas Mencangkul Di Penjara

arena dianggap hampir membunuh Baginda maka Abu Nawas mendapat celaka. Dengan kekuasaan yang absolut Baginda memerintahkan prajurit-prajuritnya langsung menangkap dan menyeret Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara. Waktu itu Abu Nawas sedang bekerja di ladang karena musim tanam kentang akan tiba. Ketika para prajurit kerajaan tiba, ia sedang mencangkul.

Dan tanpa alasan yang jelas mereka langsung menyeret Abu Nawas sesuai dengan titah Baginda. Abu Nawas tidak berkutik. Kini ia mendekam di dalam penjara. Beberapa hari lagi kentang-kentang itu harus ditanam. Sedangkan istrinya tidak cukup kuat untuk melakukan pencangkulan. Abu Nawas tahu bahwa tetangga-tetangganya tidak akan bersedia membantu istrinya sebab mereka juga sibuk dengan

Abu Nawas Masuk Penjara


Abu Nawas masih mengeram di penjara. Namun begitu Abu Nawas masih bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain. Baginda berpikir. Sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjara untuk membebaskan Abu Nawas. Baginda Raja tidak ingin menanggung resiko yang lebih buruk. Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak. Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas masih sanggup menyusahkan orang.

Keputusan yang dibuat Baginda Raja untuk melepaskan Abu Nawas memang sangat tepat. Karena bila

Abu Nawas dan Harimau Berjenggot

 
“Hai Abu Nawas,” seru Khalifah Harun Al-Rasyid. “Sekarang juga kamu harus dapat mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, jika gagal, aku bunuh kau.”

Kata-kata itu merupakan perintah Sultan yang diucapkan dengan penuh tegas dan kegeraman. Dari bentuk mulutnya ketika mengucapkan kalimat itu jelas betapa Sultan menaruh dendam kesumat kepada Abu Nawas yang telah berkali-kali mempermainkan dirinya dengan cara-cara yang sangat kurang ajar. Perintah itu merupakan cara Baginda untuk dapat membunuh Abu Nawas.

“Ya tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “semua perintah paduka akan hamba laksanakan, namun untuk

Mangkuk Yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

Mangkuk Yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut
Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Uthman r.a., dan 'Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut). 
 
Abubakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".

Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Uthman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang

Teka Teki Imam Al-Ghozali

Teka-Teki Al-Ghazali

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki ) :
Imam Ghazali = " Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = " Orang tua "
Murid 2 = " Guru "
Murid 3 = " Teman "
Murid 4 = " Kaum kerabat "
Imam Ghazali = " Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat
dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?"
Murid 1 = " Negeri Cina "
Murid 2 = " Bulan "
Murid 3 = " Matahari "
Murid 4 = " Bintang-bintang "
Iman Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar
adalah MASA LALU. Bagaimanapun

Berbaktilah pada Ibumu, Ibumu, Ibumu


Delapan Kebohongan Seorang Ibu Demi Sayang pada Anaknya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Empat Istri Kita


Dahulu kala…

Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri.
Raja ini sangat mencintai isteri keempatnya dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang isteri.
Dia juga sangat memuja isteri ketiganya dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya.

Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri ketiga karena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu.

Isteri pertama raja adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam pemeliharaan kekayaannya maupun untuk kerajaannya. Akan tetapi, si raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini meskipun sang isteri begitu mencintainya, tetap saja sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isterinya itu.

Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia sadar bahwa kematiannya sudah dekat.
Sambil merenungi kehidupannya yang sangat mewah itu, sang raja lalu berpikir, “Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri”.

Lalu, bertanyalah ia pada isteri keempatnya, “Sampai saat ini, aku paling mencintaimu, aku sudah menghadiahkanmu pakaian-pakaian yang paling indah dan memberi perhatian yang sangat besar hanya untukmu.

Sekarang aku sekarat, apakah kau akan mengikuti dan tetap menemaniku?”
“Tidak akan!” balas si isteri keempat itu, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Jawaban isterinya itu bagaikan pisau yang begitu tepat menusuk jantungnya.
Raja yang sedih itu kemudian berkata pada isteri ketiganya, “Aku sangat memujamu dengan seluruh jiwaku. Sekarang aku sekarat, apakah kau tetap mengikuti dan selalu bersamaku?”
“Tidak!” sahut sang isteri. “Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!”
Perasaan sang rajapun hampa dan membeku.

Do'a Kita Kepada Allah


Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis

“Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh.
Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.”
Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah

“Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah,
agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati
dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir

“Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka
di sekolah Islami yang baik meskipun mahal,
beri aku rizki untuk itu ya Allah….”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah

“Ya Allah….. jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral
Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja

“Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang
mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena
dia ibarat buah yang sedang ranum.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa

“Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang
bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami.”
Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah “Ya Allah jangan kau putuskan
tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan
dia karena dia akan ikut suaminya.”

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan

“Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat.
Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan
teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya
cucuku.”

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan
berkata……

“Engkau ingin suami yang baik dan sholeh
sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam,
akankah engkau jadi makmum yang baik?”

“Engkau ingin anak yang sholehah,
sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu……
masa engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu….
tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku,
karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku.”

“Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam,
karena apa?…… prestige? …… atau….
engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar,
Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya.”

“Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan
mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan
umat-Ku.”

“Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik
maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan.”

“Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku,
bahkan ketika dia melupakan-Ku.
Aku tetap mencintainya.”

“Anakmu adalah amanahmu,
cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan
untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya.”

Lantas…… aku malu…… dengan imajinasiku sendiri….
aku malu……

aku malu akan tuntutanku…….
Maafkan aku ya Allah……

oleh: Ratih Sanggarwati. SuMber : MAilingList: As-Syifa

Koreksi Diri Sendiri


PERKARA SEMANGKA
 
Tiga orang anak yang dituduh  telah  mencuri  buah  semangka
dibawa  ke  pengadilan  dan  menghadap hakim dengan perasaan
takut. Mereka berpikir akan menerima  hukuman  berat  karena
hakim itu dikenal sebagai orang yang sangat keras.
 
Hakim  itu juga seorang pendidik yang bijaksana. Dengan satu
ketokan palu ia berkata,  "Kalau  di  sini  ada  orang  yang
ketika  masih  anak-anak belum pernah mencuri buah semangka,
silakan tunjuk jari." Ia menunggu. Para pegawai  pengadilan,
polisi,  pengunjung  -  dan hakim sendiri - tetap meletakkan
tangan mereka di meja mereka.
 
Ketika sudah puas melihat bahwa tidak ada satu jari pun yang
diangkat  dalam  sidang  itu,  hakim  itu  berkata, "Perkara
ditolak."
 
                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Burung Merak Raja di Bawah Keranjang



HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS
Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
 
PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124
 
 
Bab 8: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
 
(12)  Seorang  raja  mempunyai  sebuah taman, yang sepanjang
empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau
subur   dan   menyenangkan.  Air  mengalir  berlimpah-limpah
melaluinya,  dan  segala   macam   burung   bernyanyi   dari
dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat
kita bayangkan terdapat di dalam taman itu.  Dan  di  antara
semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik.
 
Sekali  waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak,
dan memerintahkannya agar ia  dimasukkan  ke  dalam  kantung
kulit  supaya  bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia
tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan  cara  apa
pun.   Dia   juga   memerintahkan   agar  burung  merak  itu
ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang  hanya  mempunyai
satu  lubang,  melalui  lubang itu sedikit biji-bijian dapat
dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.
 
Lama waktu berlalu.  Burung  merak  itu  lupa  pada  dirinya
sendiri,  sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya.
Ia melihat  pada  dirinya  sendiri.  Burung  tersebut  tidak
melihat  apa-apa  kecuali  kantung  kulit yang kotor itu. Ia
mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap  dan  jelek;  ia
percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang
lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu,  sedemikian
rupa  sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika
ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal
atau   kesempurnaan   di  luar  yang  ia  ketahui,  maka  ia
menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong  kosong  besar
dan kebodohan yang murni.
 
Sekalipun  demikian,  setiap kali angin segar berhembus, dan
harumnya  bunga-bunga  dan  pepohonan,  violet  (=   sejenis
tumbuhan  yang  bunganya  berbau harum), melati dan tumbuhan
rempah-rempah sampai ke  hidung  burung  itu,  ia  merasakan
kesenangan  yang  mengejutkan  melalui  lubang  itu.  Timbul
kekhawatiran di dalam hatinya. Ia  merasakan  adanya  hasrat
untuk  pergi  dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari
mana kerinduan itu berasal,  sebab,  kecuali  kantung  kulit
itu,  ia  tidak  mengetahui  apa-apa;  selain keranjang itu,
tidak ada dunia lain;  selain  biji-bijian  itu,  tidak  ada
makanan   lain.   Ia   telah   melupakan   semuanya.  Ketika
sekali-sekali  ia  mendengar   suara   burung-burung   merak
bernyanyi,  dan  burung-burung  lain  berlagu, kerinduan dan
hasratnya  timbul;  tetapi  ia   tidak   terbangunkan   oleh
suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin. Pernah ia
bergairah memikirkan sarangnya.
Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku
dan hampir mengucapkan kata-kata,
'aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu.'
(13)  Lama  sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang
harum itu, dan  darimanakah  bunyi-bunyian  yang  indah  itu
datang.
Wahai kilat yang menyambar,
dari perlindungan siapa engkau muncul?
Tetapi ia tidak sadar-sadar juga,  meskipun  sepanjang  masa
itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.
Ah, kalau saja Laila sekali saja
mengirimkan salam karunianya, meskipun
diantara kami terbentang debu dan bebatuan besar.
 
Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya,
atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu,
burung sakit yang memekik di tengah keremangan
kuburan.
 
Burung  merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya
dan juga tanah airnya.
... janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti
orang yang melupakan Allah, yang  mengakibatkan
Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)
 
Setiap kali hembusan  angin  atau  suara-suara  datang  dari
taman,  timbul  hasrat  dalam  diri  si  burung  merak tanpa
mengetahui mengapa demikian.
 
Kedua baris ini adalah karya seorang penyair:
 
Kilat Ma'arra bergerak di tengah malam, ia
melewati malam di Rama yang melukiskan
kebosanannya.
 
Ia benar-benar menyedihkan para penunggang,
kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah
menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan
pelana-pelana  
            
catatan: baris-baris ini berasal
dari Al-Ma'arri, Siqth al-Zand. hal. 51).
 
(14) Ia tetap  kebingungan  selama  beberapa  waktu,  sampai
suatu   hari   sang   raja  memerintahkan  agar  burung  itu
dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk  dibawa
menghadapnya.
 
Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan
satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)
 
Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah
dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah
terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan
mereka pada hari itu maha mengetahui
keadaannya. (QS 100:9-11)
 
Ketika  burung  keluar  dari  penutupnya,  burung  merak itu
melihat  dirinya  berada  di  tengah-tengah  taman.   Ketika
memandang  bulu-bulunya  sendiri,  dan melihat taman beserta
aneka  ragam  bunganya,  atmosfir  dunia,  kesempatan  untuk
berjalan  kesana-kemari  dan  terbang  tinggi,  serta  semua
suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri
mendesah  seakan-akan  tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik
'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).
 
Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam
memenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56)
 
Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi
matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS
50:22)
 
Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
padahal ketika itu kamu melihat orang yang
sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami
lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu,
namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85)
 
Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu
akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu,
kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS
102:3-4)

HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS


HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS
Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
 
PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124 

  
Bab 7: Burung Hoopoe dan Burung Hantu
 
(11) Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di
lingkungan beberapa burung  hantu,  lalu  mampir  di  sarang
mereka.  Nah,  sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat
Arab, burung hoopoe  termasyhur  karena  ketajaman  matanya,
sementara  burung-burung  hantu  itu  pada  siang hari buta.
Burung hoopoe melewatkan  malam  itu  bersama  burung-burung
hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang
segala macam hal. Pada waktu  fajar,  ketika  burung  hoopoe
berkemas  dan  siap  untuk  pergi, burung-burung  hantu  itu
berkata, 'Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa  yang  akan
kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?'
 
'Ini   mengherankan,'   kata  si  hoopoe,  'Semua  pekerjaan
berlangsung pada siang hari.'
 
'Apakah kamu gila?' burung-burung hantu itu bertanya.  'Pada
siang  hari,  dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari
atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?'
 
'Justru sebaliknya,' kata si hoopoe, 'Semua cahaya di  dunia
ini  tergantung  pada cahaya matahari, dan darinyalah segala
sesuatu   yang   bersinar   itu    mendapatkan    cahayanya.
Sesungguhnya   ia  dinamakan  "mata  dari  hari,"  sebab  ia
merupakan sumber cahaya.'
 
Tetapi burung-burung hantu  itu  mengira  dapat  mengalahkan
logika  si  hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun
dapat melihat pada siang hari.
 
'Janganlah  beranggapan  bahwa  lewat  analogi  dengan  diri
kalian  sendiri  setiap orang itu seperti kalian. Semua yang
lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku  dapat
melihat,  aku  berada  di  dunia  yang  dapat dilihat, dapat
diamati. Ketidakjelasan itu  telah  hilang,  dan  aku  dapat
mengenali    permukaan    yang    cemerlang   dengan   jalan
menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.'
 
Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi
ribut   menjerit-jerit  dan,  sambil  bertengkar  satu  sama
lainnya,  mereka  berkata,  'Burung  ini  berbicara  tentang
kemampuan  melihat  pada  siang  hari, ketika kita terserang
kebutaan.' Dengan segera  mereka  menyerang  si  hoopoe  dan
melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya
dengan memanggilnya 'si  melek-siang-hari;'  sebab  kebutaan
pada  siang  hari  merupakan  kewajaran  di kalangan mereka.
'Jika  kamu  tidak  menarik  kembali  perkataanmu,'   mereka
berkata, 'kamu akan dibunuh!'
 
'Jika  aku  tidak  membuat  diriku  buta,'  pikir si hoopoe,
'mereka akan membunuhku. Karena mereka  merasakan  kesakitan
terutama  pada  mata  mereka,  kebutaan  dan  kematian  akan
terjadi  secara  serentak.'  Dan  kemudian,  diilhami   oleh
pepatah,  'Berbicaralah  dengan  orang-orang  sesuai  dengan
tingkat kecerdasan mereka,' dia menutup matanya dan berkata,
'Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.'
 
Melihat  memang  demikianlah halnya, mereka berhenti memukul
dan  melukai  si  burung  hoopoe,   yang   menyadari   bahwa
mengungkap  rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak
percaya  sama  saja  dengan  menyebarkan  rahasia  kekafiran
mereka.  Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara
susah  payah  dia  bertahan  dengan  berpura-pura  buta  dan
berkata:
 
Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan
menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana
ini.
 
Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya
hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah
mengunci] bibirku dengan seribu paku.
 
Dia mengeluh dalam-dalam  dan  berkata,  'Dalam  diriku  ada
banyak   pengetahuan;   jika  aku  melepaskannya,  aku  akan
terbunuh.'
 
Jika selubung itu  diangkat, aku tidak akan
menjadi lebih yakin  (catatan: perkataan  ini
diyakini berasal dari 'Ali ibn Abi Thalib).
 
Agar mereka  menyembah  Allah  yang  mengungkapkan
segala  yang terpendam  di langit dan di bumi
serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan
dinyatakan. (QS 27:25)
 
Jelaslah, tidak  sesuatu pun yang tidak
dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak
mengaruniakan  semua kebutuhan itu, kecuali dengan
kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )


Bunglon dan Kelelawar

HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS
Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
 
PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124
 
 
Bab 6: Bunglon dan Kelelawar
 
(10) Suatu kali pernah timbul pertentangan  antara  beberapa
ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka
sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu  sudah
melampaui  batas.  Para  kelelawar  setuju  bahwa  jika saat
petang  menjelang  malam  telah   menyebar   melalui   ceruk
lingkaran  langit,  dan  matahari  telah  turun  di  hadapan
bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari,  mereka
akan   bersama-sama   menyerang   si  bunglon  dan,  setelah
menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka  hati  dan
melampiaskan  dendam.  Ketika  saat  yang  dinantikan  tiba,
mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama
menyeret  bunglon  yang  malang dan tak berdaya itu ke dalam
sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.
 
Ketika fajar tiba, mereka  bertanya-tanya  apakah  sebaiknya
bunglon  itu  disiksa  saja.  Mereka  semua setuju bahwa dia
harus dibunuh, tetapi mereka  masih  merencanakan  bagaimana
cara  terbaik  untuk  melaksanakan pembunuhan  itu. Akhirnya
mereka memutuskan  bahwa  siksaan  yang  paling  menyakitkan
adalah  dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri
tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan,  selain
berada  dekat  dengan  matahari; dan, dengan membuat analogi
dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam  supaya  dia
memandang   matahari.   Bunglon   itu,  sudah  pasti,  tidak
mengharapkan yang lebih baik lagi. 'Penghukuman' semacam itu
persis  seperti  yang  diinginkannya,  sebagaimana dikatakan
oleh Husayn Manshur,
 
Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan
terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada
dalam  kematianku, dan kematianku ada dalam
hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat
dalam Al-Hallaj, 14.1)
 
Maka  ketika  matahari terbit, mereka membawanya keluar dari
rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh  cahaya
matahari,   siksaan   yang   sesungguhnya   merupakan  jalan
keselamatan baginya.
 
Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur
dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak!
Bahkan mereka hidup. Mereka  mendapat rizki dan
Tuhannya. (QS 3:169)
 
Kalau  saja  para  kelelawar  itu  tahu  betapa  murah  hati
tindakan  mereka  terhadap  bunglon  itu,  dan betapa mereka
telah  berbuat  keliru,  karena  mereka  justru   memberinya
kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani
berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka
telah  mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka
pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia
'Aththar, Tadzkirah, hal. 282)